Thorium telah digunakan dalam beberapa eksperimen fisika nuklir awal oleh ilmuwan seperti Marie Curie dan Ernest Rutherford. Namun, selama Perang Dunia II, uranium dan plutonium menjadi lebih dominan dalam proses nuklir karena keduanya menyediakan jalur paling jelas untuk pembuatan bom.
Dalam konteks pembangkit listrik, thorium menawarkan beberapa keuntungan nyata. Uranium-233 yang terbentuk dari thorium merupakan bahan bakar yang lebih efisien dibandingkan uranium-235 atau plutonium. Selain itu, reaktor thorium dapat beroperasi pada suhu lebih tinggi, sehingga mengurangi risiko meleleh.
Selain itu, penggunaan thorium menghasilkan lebih sedikit plutonium selama operasi reaktor. Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa reaktor thorium dapat mengurangi jumlah plutonium berbahaya yang telah diproduksi dan disimpan sejak tahun 1950-an.
Selain itu, armada reaktor yang beroperasi dengan thorium dan uranium-233 dianggap lebih tahan terhadap proliferasi senjata nuklir, karena teknologi yang lebih canggih diperlukan untuk memisahkan uranium-233 dari produk limbah dan menggunakannya untuk membuat bom.
Namun, terdapat beberapa tantangan dalam penggunaan thorium. Salah satunya adalah sifat radioaktif thorium dan uranium-233 yang membuat proses kimia mereka lebih berbahaya dan kompleks. Hal ini menyulitkan pengolahan dan produksi batang bahan bakar uranium-233.
Oleh arena thorium bukan bahan bakar langsung, diperlukan produksi awal uranium-233 dalam jenis reaktor lain untuk memulai siklus bahan bakar thorium-uranium-233.
Menurut Steve Krahn, profesor di Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan di Vanderbilt University, "Jika kita akan memberi daya pada planet kita menggunakan siklus bahan bakar yang menggunakan thorium dan uranium-233, uranium-233 yang cukup harus diproduksi dalam jenis reaktor lain untuk mengisi bahan bakar reaktor uranium-233 awal." Meskipun metode untuk memproses thorium-232 dan uranium-233 secara kimia serta memproduksi bahan bakar dari keduanya sudah cukup mapan, fasilitas untuk melaksanakan proses ini masih perlu dibangun.
Penerapan Thorium dalam Produksi Energi
Ada beberapa metode yang sedang diselidiki untuk menerapkan thorium dalam produksi energi. Salah satunya adalah penggunaan bahan bakar padat thorium/uranium-232 dalam reaktor berpendingin air konvensional, mirip dengan pembangkit listrik berbasis uranium modern. Faktanya, lebih dari 20 reaktor di seluruh dunia telah dioperasikan dengan bahan bakar yang terbuat dari thorium dan uranium-233.
Prospek lain yang menarik bagi ilmuwan dan pendukung tenaga nuklir adalah reaktor garam cair. Dalam pembangkit ini, bahan bakar dilarutkan dalam garam cair yang juga berfungsi sebagai pendingin reaktor. Garam memiliki titik didih yang tinggi, sehingga dapat meningkatkan efisiensi pembangkitan listrik dan mengurangi risiko kecelakaan reaktor besar seperti yang terjadi di Fukushima, Jepang.
Meskipun terdengar seperti fiksi ilmiah, reaktor semacam ini pernah dioperasikan di Amerika Serikat pada 1960-an dan saat ini sedang dibangun di Gurun Gobi, China.
Potensi Thorium sebagai Sumber Energi Masa Depan
Penemuan cadangan thorium yang melimpah di China membuka peluang besar untuk diversifikasi sumber energi global. Dengan kelebihan seperti efisiensi bahan bakar yang lebih tinggi dan pengurangan produksi plutonium berbahaya, thorium berpotensi menjadi alternatif yang lebih aman dan berkelanjutan dibandingkan bahan bakar nuklir konvensional.
Namun, tantangan teknis dan infrastruktur yang terkait dengan pengolahan dan penggunaan thorium harus diatasi sebelum dapat diadopsi secara luas. Investasi dalam penelitian dan pengembangan teknologi reaktor thorium, serta pembangunan fasilitas pengolahan yang sesuai, akan menjadi kunci untuk memanfaatkan potensi penuh thorium sebagai sumber energi masa depan.
(seo)
































