Sementara itu, respons resmi dari Rusia lebih berhati-hati. Seorang pejabat dekat Kremlin menyatakan bahwa Rusia tidak memiliki pengaruh atas kebijakan AS.
Kirill Dmitriev, mantan bankir Goldman Sachs yang kini menjadi utusan berpengaruh Putin, sempat mengunggah sesuatu di media sosial X sebelum menghapusnya. Namun, ia kemudian mengunggah video perdebatan sengit antara Trump dan Zelenskiy dengan satu kata: "Bersejarah."
Putin kini dapat dengan tenang menyaksikan situasi berkembang sesuai keinginannya.
Ia sebelumnya telah mempertanyakan legitimasi Zelenskiy sebagai presiden karena masa jabatannya secara teknis berakhir tahun lalu—meskipun hal itu terjadi akibat invasi Rusia yang memaksa Ukraina memberlakukan darurat militer dan menangguhkan pemilu. Kini, sejumlah pihak di sekitar Trump mulai menggaungkan wacana serupa: mendesak agar Zelenskiy mundur.
Dari perspektif Rusia, hubungan AS dengan Ukraina—dan bahkan dengan Eropa—telah hancur. Hal ini sesuai dengan tujuan yang telah dinyatakan Putin sejak 2007 dalam pidatonya di Konferensi Keamanan Munich. Kini, ia melihat kata-katanya kembali diulang, kali ini melalui serangan verbal JD Vance terhadap nilai-nilai Eropa dalam pertemuan 2025.
Bahkan sebelum negosiasi damai dimulai, Trump sudah mengabulkan tuntutan Rusia agar Ukraina meninggalkan ambisinya untuk bergabung dengan NATO. Pejabat tinggi pemerintahannya menyebut bahwa harapan Ukraina untuk merebut kembali wilayah yang diduduki Rusia sejak 2014 adalah sesuatu yang "tidak realistis.” Trump juga menegaskan bahwa tidak akan ada pasukan AS yang dikerahkan sebagai penjaga perdamaian dalam kesepakatan gencatan senjata.
Zelenskiy meninggalkan Gedung Putih tanpa menandatangani kesepakatan mineral yang diklaim Trump sebagai syarat utama bagi AS untuk terus mendukung Ukraina. Konferensi pers bersama pun dibatalkan. Trump kemudian menulis di media sosial bahwa Zelenskiy "tidak siap untuk berdamai jika AS terlibat” dan telah "tidak menghormati” Amerika Serikat.
Konsekuensi dari pertemuan tersebut diperkirakan akan berupa pemotongan besar dalam pendanaan AS untuk Ukraina. Menurut Sergei Markov, seorang analis politik dengan hubungan dekat ke Kremlin, kejadian ini menunjukkan bahwa Zelenskiy "harus segera mundur dari jabatannya.”
Bagi para pemimpin Eropa yang terkejut, dampak besar dari bentrokan di Gedung Putih mulai terasa. Kini, nasib Ukraina—serta keamanan benua mereka—bergantung pada mereka sendiri, karena bayangan kemungkinan AS menarik dukungannya semakin nyata di tengah konfrontasi dengan Putin.
“Hari ini, menjadi jelas bahwa dunia bebas membutuhkan pemimpin baru,” tulis Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, di platform X. “Kini, tanggung jawab ada di tangan kita, orang-orang Eropa.”
(bbn)





























