Logo Bloomberg Technoz

Yield tenor 5Y naik 5,2 basis poin ke level 6,725%. Sementara tenor 10Y naik 3,6 basis poin ke level 6,893%. Sedangkan tenor pendek 2Y hanya naik yield-nya tipis 0,5 basis poin ke level 6,498%.

IHSG anjlok terendah sejak 2021 pada 27 Februari 2025 (Riset Bloomberg Technoz)

Pelemahan rupiah tidak sendirian. Semua mata uang Asia tergilas dolar AS sepanjang hari ini. Indeks dolar AS kembali merangkak naik ke level 106,62.

Won Korsel menjadi yang paling ambles siang ini dengan penurunan nilai hingga 0,58%, baht 0,53%, ringgit 0,37%, rupiah 0,37%, lalu rupee 0,21%, dolar Singapura 0,19%.

Para pemodal bergerak menyerbu aset safe haven di tengah peningkatan tensi ketidakpastian seputar perang tarif di antara negara-negara besar yang dikobarkan oleh Presiden AS Donald Trump. Sentimen negatif itu dikombinasikan dengan sinyal hawkish dari pejabat Federal Reserve yang mengikis harapan akan penurunan bunga acuan dalam waktu dekat.

Di Asia, pergerakan bursa saham juga mayoritas di zona merah. Hang Seng merah tergerus hampir 1%, Nikkei juga melemah 0,12%, kemudian indeks Shanghai juga turun 0,41%. Di ASEAN, bursa saham Thailand tergerus lebih dari 1%, bursa Malaysia turun 0,31%, indeks saham Singapura juga melemah 0,1%.

Sedangkan bursa saham Filipina masih hijau dengan kenaikan tipis 0,03%, bersama bursa saham Vietnam yang naik 0,37%.

IHSG 'kebakaran'

Arus jual makin deras di pasar saham Indonesia sampai jelang penutupan sesi pertama perdagangan hari ini. Terpantau beberapa saham menjadi pembeban indeks di antaranya BBRI, BMRI, TLKM, BBCA, GOTO juga BREN dan BYAN.

Sementara di jajaran pengungkit IHSG, ada AMMN, AKRA, UNTR, BRMS, MAPI, BUMI, juga AADI.

Tekanan yang dialami oleh pasar saham sudah berlangsung sejak beberapa waktu belakangan terutama karena arus jual pemodal asing yang tanpa jeda.

Mengacu data otoritas yang dikompilasi oleh Bloomberg, para pemodal asing telah membukukan net sell senilai US$ 1,05 miliar year-to-date di bursa saham domestik. Dengan kurs dolar AS terakhir, nilai penjualan itu setara dengan Rp17,21 triliun.

Arus keluar menghebat pada Februari ini di mana nilai net sell asing mencapai US$ 821,1 juta atau sekitar Rp13,45 triliun sendiri.

Berbagai sentimen negatif tidak memberikan peluang bagi IHSG untuk bangkit, terutama dari isu dalam negeri. Ada indikasi para investor mulai mengkhawatirkan prospek ke depan menyusul penurunan peringkat saham oleh bank investasi global. Yang terakhir adalah Morgan Stanley yang menurunkan peringkat saham MSCI Indonesia menjadi 'underweight' dari semula 'equal weight'.

Di sisi lain, pasar juga mengkhawatirkan risiko yang menyertai pembentukan Badan Pengelola Investasi Danantara.  "Investor terutama investor asing khawatir terhadap Danantara yang dianggap membawa risiko fiskal akibat rencana penyuntikan modal Rp325 triliun dari APBN melalui program efisiensi dan risiko bisnis karena posisi eksekutif maupun komisaris didominasi oleh politisi dan pejabat publik, bukan profesional keuangan dan investasi yang independen," kata tim analis Mega Capital Sekuritas, di antaranya Lionel Priyadi, Muhammad Haikal serta Nanda Rahmawati dalam catatannya.

Dalam riset terbaru Goldman Sachs yang dirilis hari ini, defisit fiskal APBN 2025 diperkirakan naik menyentuh 2,9% dari proyeksi pemerintah di angka 2,5%. 

Proyeksi kenaikan defisit fiskal itu adalah karena dampak dari pembentukan Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia, juga ekspansi program 3 Juta Rumah oleh Presiden Prabowo Subianto, yang menguras anggaran lebih besar.

Penilaian JPMorgan

Pelemahan rupiah yang terus berlarut-larut, mengancam pertumbuhan laba saham perusahaan-perusahaan yang tercatat di bursa domestik, menurut kajian JP Morgan.

JP Morgan menilai pelemahan rupiah yang terjadi terutama karena fenomena strong dollar Amerika Serikat di seluruh dunia, bisa berdampak pada saham-saham di bursa Indonesia.

Indeks dolar AS, biasa disebut DXY, diperkirakan bisa menyentuh 111,7 pada akhir kuartal ini. Dolar yang kuat akan menghempas mata uang lawannya, termasuk rupiah dan membawa dampak pada pertumbuhan laba perusahaan.

"Analisis kami menunjukkan, korporasi di Indonesia akan dirugikan akibat pelemahan rupiah karena sebagian dari biaya input bahan baku dan pengeluaran belanja modal melibatkan barang-barang impor sementara sebagian besar pendapatan adalah dalam rupiah. Selain itu, beberapa korporasi di Indonesia masih memiliki eksposur utang dolar AS," kata Head of Research JP Morgan Henry Wibowo dalam risetnya, dikutip Rabu (12/2/2025).

Analisis JP Morgan, setiap pelemahan rupiah sebesar 1% terhadap dolar AS, itu akan berdampak pada pertumbuhan laba per saham, EPS (Earning per Share) sebesar 0,5%.

Dalam riset sebelumnya yang dilansir akhir tahun, JPMorgan Indonesia menyodorkan dua skenario bull dan bear IHSG dengan rupiah salah satu variabel penting.

Dalam skenario bull, IHSG berpotensi menyentuh 8.400 tahun depan dengan asumsi rupiah menguat ke Rp15.000/US$ didukung oleh defisit transaksi berjalan yang lebih baik, arus masuk investasi langsung asing (FDI) yang lebih baik juga ketangguhan konsumsi domestik. Skenario itu juga membutuhkan arus masuk modal asing yang pasar saham.

Sedangkan dalam skenario bear, IHSG bisa terperosok ke 6.500. Skenario itu adalah bila terjadi penurunan proyeksi pertumbuhan PDB lebih lanjut, ditambah inflasi lebih tinggi serta daya beli konsumen yang lebih lemah. "Juga, depresiasi rupiah yang cepat hingga ke Rp17.000/US$," demikian riset menyebutkan.

JP Morgan memprediksi, nilai tukar rupiah rata-rata bergerak di kisaran Rp16.275-Rp16.400/US$ pada 2025. 

(rui)

No more pages