Raksasa komoditas asal China ini dibangun oleh Dai Guo Fang, seorang pengusaha logam legendaris, pada 2010 dengan lebih dari 10.000 karyawan.
Jiangsu Delong memiliki kapasitas produksi tahunan lebih dari 10 juta ton baja nirkarat dan produk paduan lainnya dari pabrik-pabrik di China dan Indonesia, tetapi banyak operasinya yang lalu menghadapi kendala akibat runtuhnya harga nikel beberapa tahun terakhir.
Adapun, Jiangsu Delong menerapkan keahlian signifikan dari smelter nikel pirometalurgi atau berbasis teknologi rotary kiln-electric furnace (RKEF) di kompleks industri miliknya di China.
Sebelum Indonesia menerapkan larangan ekspor bijih nikel pada 1 Januari 2020, Jiangsu Delong memproses bijih nikel yang diimpor dari Filipina dan Indonesia menjadi feronikel dengan metode peleburan dan pemurnian dan memiliki kapasitas tahunan 1 juta ton besi nikel.
Terbelit Utang
Krisis keuangan yang menimpa Jiangsu Delong pada tahun lalu ramai diperbincangkan setelah grup konglomerat itu mengajukan permintaan restrukturisasi utang oleh salah satu krediturnya ke pengadilan China pada Juli.
Salah satu pedagang komoditas terbesar di China, yaitu Xiamen Xiangyu Co, menghadapi kesulitan yang dipicu oleh runtuhnya Jiangsu Delong yang notabene merupakan klien utama bisnis logamnya.
Runtuhnya Jiangsu Delong saat itu adalah bagian terbaru dalam gelombang krisis utang dramatis yang melanda perusahaan-perusahaan China saat pertumbuhan ekonomi negara tersebut melambat.
Kasus ini diawasi ketat oleh ratusan bankir, pedagang grosir, pemasok peralatan, hingga pedagang komoditas di dalam dan luar China, karena jaringan bisnis Dai Guo Fang yang luas.
Dalam pernyataan bursa Juli tahun lalu, Xiamen Xiangyu mencantumkan Jiangsu Delong sebagai pelanggan logam terbesarnya pada 2023, dengan perdagangan produk feronikel dan ferokrom senilai 7,1 miliar yuan.
Sementara itu, Xiangshui Hengsheng Stainless Steel Casting Co., perusahaan saudara Jiangsu Delong yang juga menghadapi permintaan restrukturisasi, adalah rekanan perdagangan logam terbesar Xiamen Xiangyu pada 2022 dengan transaksi sebesar 13,7 miliar yuan.
Xiangyu mengatakan bahwa eksposur Jiangsu Delong yang akan ditangani oleh perusahaan induk termasuk pembayaran di muka dan piutang, tanpa menjelaskan lebih lanjut.
Pembayaran di muka umumnya mengacu pada pembayaran sebagian yang dilakukan oleh pelanggan sebelum pengiriman material.
Piutang adalah utang yang harus dibayarkan kepada perusahaan oleh pelanggannya untuk barang yang telah dikirim tetapi belum dibayar.
Dalam perdagangan komoditas, hal ini terkadang menjadi cara bagi rekanan dengan arus kas yang lebih kuat untuk membiayai pihak yang lebih lemah. Hubungan seperti itu umumnya mengharuskan penerima untuk memberikan agunan dan diskon harga kepada pemasok.
Dalam laporan Juni tahun lalu, perusahaan pemeringkat China Lianhe Credit Rating Co. mengatakan bahwa Xiamen Xiangyu meningkatkan skala pembayaran di muka sejak 2023 untuk "menstabilkan sumber daya hulu".
Hingga akhir Maret tahun lalu, total utang perusahaan telah meningkat menjadi 64,6 miliar yuan, dan beban utangnya relatif berat, menurut Lianhe.
Xiangyu mengatakan, dalam pernyataannya bahwa pabrik-pabrik Jiangsu Delong yang disebutkan dalam dokumen pengadilan berada di bawah pengawasan pemerintah dan berproduksi secara normal.
Jadi PSN
Di sisi lain, Jiangsu Delong sudah masuk dan memiliki unit bisnis di Indonesia, salah satunya adalah Gunbuster Nickel Industry.
Saat meresmikan GNI di Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah, Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) menggarisbawahi perusahaan dari luar negeri memang tidak memiliki pilihan selain harus membangun industri di Indonesia untuk bisa memanfaatkan dan mengolah bijih nikel usai larangan ekspor tersebut.
Menyadur pernyataan dalam laman resmi perusahaan, GNI merupakan perusahaan smelter bijih nikel yang berdiri sejak 2019.
Proyek GNI juga masuk dalam proyek strategis nasional (PSN) berdasarkan Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian No. 7/2021 tentang Perubahan Daftar Proyek Strategis Nasional, dan tergabung dalam proyek bersama Virtue Dragon Nickel Industry.
Operasi GNI terletak di di Desa Bunta, Kecamatan Petasia Timur, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Dengan menggunakan teknologi pirometalurgi atau RKEF, smelter GNI memiliki kapasitas produksi 1,9 juta NPI per tahun.
Selain itu, perusahaan menghasilkan produk feronikel yang kemudian diolah menjadi bahan baku yang digunakan untuk produksi baja nirkarat dan industri besi paduan nikel.
GNI juga berkolaborasi dengan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), yang merupakan anggota holding badan usaha milik negara (BUMN) sektor pertambangan, PT Mineral Industri Indonesia (MIND ID).
Kerja sama tersebut dilakukan dengan adanya perjanjian pendahuluan atau head of agreement (HoA) kedua perusahaan dengan 1 perusahaan lain bernama Alchemist Metal Industry Pte Ltd pada Mei 2021, yakni untuk pengembangan bisnis smelter di kawasan Konawe Utara dan Morowali Utara.
Selain GNI, Jiangsu Delong juga memiliki dua unit bisnis lainnya di Indonesia, yakni Obsidian Stainless Steel (OSS) dan PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.
Smelter GNI melengkapi lini produksi yang sebelumnya dilakukan di smelter OSS, yang merupakan smelter penghasil feronikel dengan kapasitas produksi 2,2 juta ton/tahun dan billet stainless steel dengan kapasitas produksi 3 juta ton/tahun.
Sementara itu, VDNI merupakan smelter penghasil feronikel dengan kapasitas produksi 1 juta ton/tahun.
Kemenko Perekonomian melaporkan OSS, VDNI, dan GNI milik Jiangsu Delong secara total telah menggelontorkan investasi senilai US$8 miliar, dengan penyerapan tenaga kerja lebih kurang 27.000 orang.
-- Dengan asistensi Dovana Hasiana dan Mis Fransiska Dewi
(wdh)
































