Logo Bloomberg Technoz

Trump menginstruksikan pemerintahannya untuk mempertimbangkan penerapan tarif timbal balik terhadap sejumlah mitra dagang, menandai eskalasi terbaru dalam ketegangan perdagangan global. Namun, pasar tampaknya merespons dengan tenang karena proses ini masih memerlukan waktu. Howard Lutnick, calon Menteri Perdagangan AS yang diajukan Trump, mengatakan kepada wartawan bahwa kajian terkait tarif ini baru akan selesai pada April.

“Presiden Trump ingin menciptakan keseimbangan dalam perdagangan global dengan memberlakukan tarif resiprokal bagi negara-negara yang mengenakan bea masuk terhadap produk AS,” ujar Jose Torres dari Interactive Brokers. “Namun, investor mulai menyadari bahwa sebagian besar retorika ini lebih banyak bersifat taktik negosiasi ketimbang kebijakan yang benar-benar akan diterapkan.”

Grafik S&P 500. (Sumber: Bloomberg)

Di sisi lain, Trump juga mengatakan akan membahas pembelian minyak dan gas AS oleh India dalam pertemuannya dengan Perdana Menteri Narendra Modi. Namun, pengumuman soal tarif resiprokal yang dibuat hanya beberapa jam sebelum Modi tiba di Gedung Putih membuat isu perdagangan ini mendominasi pertemuan mereka.

Di Asia, perusahaan ekuitas swasta berbasis di AS, KKR & Co, dikabarkan tengah mempertimbangkan investasi di Nissan Motor Co setelah pembicaraan merger pabrikan otomotif Jepang itu dengan Honda Motor C. mengalami kegagalan. Sementara itu, sejumlah data ekonomi penting yang dijadwalkan rilis pada Jumat ini meliputi tingkat pengangguran Korea Selatan, produk domestik bruto Malaysia, serta harga grosir India.

Sementara itu, harga minyak sedikit berubah pada Kamis setelah sempat jatuh ke level terendah sejak Desember. Ketidakpastian mengenai rencana tarif Trump meredam kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan minyak Rusia.

Para pelaku pasar di Wall Street mengabaikan data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan, dengan fokus pada tanda-tanda bahwa indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) yang menjadi acuan bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) kemungkinan akan lebih rendah dari ekspektasi. Indeks harga produsen (IHP) bulan Januari mencatat kenaikan lebih tinggi dari perkiraan, tetapi beberapa komponennya yang berpengaruh terhadap PCE, seperti layanan kesehatan dan tiket pesawat, justru mengalami penurunan. PCE terbaru dijadwalkan rilis pada 28 Februari.

“IHP memang lebih tinggi dari perkiraan, bahkan dengan revisi naik, tetapi data yang benar-benar digunakan dalam PCE justru lebih rendah,” kata Andrew Brenner dari NatAlliance Securities. “Dan PCE adalah angka yang paling diperhatikan oleh Gubernur The Fed, Jerome Powell, serta bank sentral AS. Jadi, secara keseluruhan, data ini sebenarnya lebih positif.”

Di pasar komoditas, harga emas kembali naik pada Kamis, mendekati rekor tertingginya awal pekan ini. Logam mulia ini terus menguat sepanjang tahun didorong oleh permintaan sebagai aset safe haven, dengan analis memperkirakan potensi pengujian harga US$3.000 per ounce dalam waktu dekat.

(bbn)

No more pages