Di samping itu, saham-saham LQ-45 unggulan ada yang berhasil menguat dan menjadi top gainers di antaranya saham PT Ciputra Development Tbk (CTRA) yang melesat 6,32%, saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) melonjak 4,86%, dan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melejit 4,47%.
Kemudian saham-saham LQ45 yang melemah dalam dan menjadi top losers di antaranya saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang ambles 10,4%, saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) yang jatuh 5,64%, dan saham PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) yang ambruk 3,84%.
Bursa Saham Asia lainnya justru menguat. Index Shenzhen Comp. (China), SETI (Thailand), CSI 300 (China), Hang Seng (Hong Kong), Shanghai Composite (China), Straits Time (Singapura), Weighted Index (Taiwan), KLCI (Malaysia), dan Ho Chi Minh Stock Exchange (Vietnam), yang berhasil menguat masing-masing 1,61%, 1,59%, 1,30%, 1,16%, 1,01%, 0,81%, 0,69%, 0,36%, dan 0,29%.
Di sisi berseberangan, IHSG (Indonesia), PSEI (Filipina), NIKKEI 225 (Tokyo), KOSPI (Korea Selatan), TOPIX (Jepang), dan SENSEX (India), yang terpeleset masing-masing 1,93%, 1,39%, 0,72%, 0,58%, 0,54%, dan 0,24%.
Jadi, IHSG adalah indeks dengan pelemahan paling buruk dan terlemah di Asia dan juga ASEAN.
Sentimen pada perdagangan hari ini utamanya datang dari global. Setelah ketidakpastian pasar akibat perang dagang tarif Trump, saat ini investor menantikan data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang akan menjadi indikator penting bagi arah kebijakan suku bunga Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed).
Seperti yang diwartakan Bloomberg News, pasar tengah menanti laporan ketenagakerjaan non-Farm Payrolls AS yang akan dirilis Jumat malam nanti.
“Laporan ketenagakerjaan pada Jumat ini sangat penting bagi pasar. Jika hasilnya sesuai dengan ekspektasi, pasar akan tetap stabil di tengah ketidakpastian terkait kebijakan tarif dan kebijakan lainnya,” kata Tom Essaye dari The Sevens Report.
“Namun, jika hasilnya jauh dari ekspektasi, itu bisa menjadi tekanan tambahan bagi aset berisiko dan menekan saham.”
Gubernur The Fed, Jerome Powell, pekan lalu menyatakan, para pejabat masih ingin melihat inflasi bergerak ke arah yang diharapkan sebelum mempertimbangkan pemangkasan suku bunga acuan lanjutan di 2025.
Mencermati hal itu, Analis Phintraco Sekuritas memaparkan, pasar mengantisipasi rilis data inflasi AS bulan Januari 2025 yang dijadwalkan rilis di pekan depan (12/2/2025) yang diperkirakan stabil di level 2.9% YoY.
“Menandakan bahwa Inflasi di Amerika masih belum mampu mendekati target Inflasi The Fed di 2%,” mengutip riset Phintraco terbaru.
Sementara dari dalam negeri, pasar juga mengantisipasi rilis data Keyakinan Konsumen bulan Januari 2025 di pekan depan (11/2/2025) untuk mengetahui optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi Indonesia setelah rilis beberapa data ekonomi terbaru sebelumnya.
Data tersebut diyakini dapat mempengaruhi pandangan pasar mengenai prospek ekonomi Indonesia kedepan.
Adapun Cadangan Devisa Indonesia tercatat terus meningkat hingga mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada Januari sebesar US$ 156,1 miliar.
“Meski begitu investor dalam negeri tetap dikhawatirkan oleh modal asing yang terus menerus keluar di pasar saham, menurut Bloomberg tercatat modal keluar asing di bursa saham sepanjang tahun ini mencapai US$430,9 juta ytd,” terang Analis Panin Sekuritas.
(fad)





























