Logo Bloomberg Technoz

Pekan ini, pemerintahan Trump menerapkan tarif 10% pada seluruh barang impor dari China, yang langsung dibalas oleh China dengan tarif pada sejumlah produk AS. Tarif sebesar 25% untuk barang dari Meksiko dan Kanada yang diumumkan awal pekan ini ditunda selama satu bulan. Sejumlah pejabat The Fed menyatakan bahwa mereka masih menunggu dampak kebijakan ini sebelum menyesuaikan kebijakan moneter.

Goolsbee menambahkan bahwa kali ini tarif bisa berdampak lebih luas karena mencakup lebih banyak negara dan jenis barang, serta berpotensi bertahan lebih lama.

"Kita belajar saat pandemi bahwa semakin kompleks rantai pasokan, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk mengatasinya," kata Goolsbee. "Awalnya mungkin tampak sementara, tetapi kemudian menjadi 'sementara' yang berkepanjangan."

Ia juga menyoroti bahwa tarif dari pemerintahan Trump di periode pertama telah mendorong beberapa perusahaan untuk memindahkan produksi dari China, tetapi hanya untuk barang yang lebih mudah dipindahkan. Sementara itu, barang-barang yang lebih sulit diproduksi di luar China tetap bertahan, yang bisa memperbesar dampak inflasi akibat tarif baru ini.

"Gangguan pada sisi pasokan dapat berdampak besar terhadap inflasi secara keseluruhan," kata Goolsbee. "Ini bukan hanya gangguan kecil yang bisa diseimbangkan dengan faktor makro lainnya. Mengabaikannya bisa berbahaya."

Awal pekan ini, Goolsbee juga menyatakan dukungannya untuk menurunkan suku bunga secara bertahap guna mengantisipasi risiko inflasi yang kembali memanas.

Pada pertemuan kebijakan 28-29 Januari, The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga setelah sebelumnya menurunkannya tiga kali berturut-turut dengan total satu poin persentase di akhir 2024. Sebagian besar pejabat The Fed menilai pendekatan yang lebih hati-hati kini lebih tepat, mengingat ketidakpastian ekonomi dan inflasi yang masih di atas target 2%.

(bbn)

No more pages