Keputusan ini dapat membuka jalan bagi penerapan tarif dalam beberapa minggu atau bulan ke depan, namun memberikan kelegaan bagi sejumlah perusahaan yang sebelumnya khawatir tarif tersebut akan diberlakukan segera. Dalam kampanye, Trump berjanji mengenakan tarif sebesar 10%-20% untuk semua barang impor, 60% untuk produk dari China, serta 25% untuk produk dari Kanada dan Meksiko.
Namun, sejumlah pihak yang mengetahui keputusan tersebut memperingatkan bahwa Trump sering kali mengubah strategi dengan cepat, sehingga masih ada kemungkinan dia kembali ke rencana awal untuk menargetkan China. Meskipun demikian, langkah pada hari Senin menunjukkan pendekatan yang lebih terencana dibandingkan retorika kampanye Trump yang keras terkait tarif.
Dalam pidato pelantikannya, Trump dengan tegas menyatakan bahwa kebijakan tarif akan tetap menjadi bagian dari agendanya. "Alih-alih membebani warga negara kita untuk memperkaya negara lain, kita akan mengenakan tarif dan pajak pada negara asing untuk memperkaya warga negara kita," ujar Trump.
Sebelumnya, Trump menyatakan bahwa ia dapat menandatangani hingga 100 perintah eksekutif pada hari pertama jabatannya. Pejabat pemerintahannya menyebutkan bahwa perintah-perintah tersebut mencakup langkah-langkah untuk menekan inflasi dan memangkas regulasi, khususnya yang terkait dengan produksi minyak dan gas.
Trump juga mengarahkan lembaga-lembaga terkait untuk mempelajari kelayakan pembentukan badan pendapatan eksternal—sebuah badan baru yang akan mengelola penerimaan tarif—serta memberikan rekomendasi terkait desain dan implementasinya. Namun, belum jelas bagaimana badan ini akan berbeda dari sistem federal yang ada, di mana Menteri Keuangan menetapkan aturan pengumpulan tarif dan Badan Bea Cukai serta Perlindungan Perbatasan (CBP) mengelola pengumpulan di pelabuhan-pelabuhan.
Langkah Trump untuk menunda tarif agresif langsung terhadap China memengaruhi pasar keuangan. Nilai dolar AS melemah, dengan indeks Bloomberg terhadap mata uang dolar turun sekitar 1,2%, menjadi penurunan harian terbesar sejak November 2023.
Investor berspekulasi bahwa perang dagang mungkin menguntungkan dolar, karena dampaknya cenderung lebih merugikan ekonomi asing dibandingkan AS, membatasi permintaan barang internasional, dan meningkatkan status dolar sebagai aset aman. Sementara itu, kontrak berjangka saham AS naik.
Analis menilai bahwa tarif Trump—yang telah ia ancam akan diberlakukan terhadap sekutu maupun musuh—berpotensi memiliki dampak besar pada ekonomi AS. Selama masa jabatan pertamanya, Trump memberlakukan tarif atas barang impor senilai sekitar US$380 miliar.
Namun, efektivitas tarif dalam mengurangi defisit perdagangan, mengembalikan manufaktur, atau menyelesaikan krisis tetap diperdebatkan. Banyak ekonom skeptis. Dalam jangka pendek, tarif lebih mungkin menyebabkan apresiasi lebih lanjut pada dolar, meningkatkan biaya impor, dan menambah pendapatan pemerintah, setidaknya untuk sementara waktu.
(bbn)




























