Logo Bloomberg Technoz

Pada saat yang sama, utang pemerintah Jepang yang sangat besar, lebih dari 250% dari Produk Domestik Bruto (PDB), dinilai akan menggagalkan segala upaya menopang kekuatan yen. 

"Ini adalah tentang utang, terlalu banyak utang dan itu memaksa Jepang ke dalam situasi yang sangat sulit, menjaga suku bunga tetap rendah dan oleh karena itu mengalihkan tekanan fiskal ke yen," kata Robin Brooks, mantan Chief Strategist Foreign Exchange di Goldman Sachs yang kini bergabung dengan Brooking Institution, seperti dilansir oleh Bloomberg News, hari ini.

Pelaku pasar memiliki insentif besar untuk melepas yen yang memberi imbal hasil sangat rendah 0,9%, dan memilih dolar AS dengan yield 4,6%. Pada saat yang sama, BoJ juga terus membeli obligasi -quantitative easing- sebagai langkah menyuntik uang tunai ke sistem keuangan. 

Jadi, pelemahan yen sepanjang tahun ini sejatinya 'by design' sebagai konsekuensi akibat lonjakan utang sangat besar itu. Analis menilai BoJ harus memulai pengetatan dengan membiarkan yield obligasi Jepang (JGB) lebih tinggi, baru yen bisa bangkit.

"[Pelemahan yen] sepenuhnya adalah buatan mereka [pemerintah Jepang] sendiri karena mereka enggan mengurangi utang. Yang menarik adalah hal itu menantang narasi bahwa ruang fiskal negara-negara maju tidak terbatas," kata Brooks. 

Yen terjatuh nilainya ke level terlemah dalam 34 tahun terakhir melawan dolar AS (Bloomberg)

Lemah Lawan Rupiah

Bukan hanya terhadap dolar AS, yen juga keok di hadapan rupiah. Mata uang Negeri Matahari Terbit melemah 4,62% year-to-date terhadap mata uang Ibu Pertiwi.

Pelemahan yen terhadap rupiah tahun ini melanjutkan depresiasi mata uang Negeri Sakura tahun lalu yang sempat mencapai 12%.

Lantas, apakah pelemahan yen ini menjadi hal yang menguntungkan atau merugikan bagi Indonesia?

Yen Jepang sejauh ini tercatat sebagai mata uang dalam apa utang luar negeri RI banyak tercatat. Sampai akhir Februari lalu, nilai utang valas RI dalam denominasi yen mencapai US$20,09 miliar, stagnan sejak awal tahun. ULN dalam yen menjadi yang terbesar ketiga setelah utang valas dalam dolar AS dan euro. 

Pelemahan yen terhadap dolar AS berpotensi meningkatkan nilai ULN RI karena utang valas dicatat dalam denominasi dolar AS. 

Akan halnya pelemahan yen terhadap rupiah, mengindikasikan para importir Jepang harus merogoh yen lebih banyak bila hendak membeli barang dari Indonesia. Boleh jadi para pengusaha Jepang kini menahan diri membeli/mengimpor barang dari Indonesia gara-gara pelemahan yen tersebut. Dengan kata lain, ada potensi ekspor RI ke Jepang menjadi kurang greget karena pengaruh nilai tukar.

Namun, dugaan itu perlu diperkuat oleh data. Bagaimana data bicara sejauh ini?

Bila melihat data ekspor impor yang telah dipublikasikan oleh Badan Pusat Statistik, nilai ekspor RI ke Jepang memang mencatat penurunan. Ekspor nonmigas RI ke Jepang pada Januari-Maret 2024 mencapai US$4,46 miliar, lebih rendah dibanding Januari-Maret 2023 sebesar US$5,41 miliar atau turun 13,85%.

Akan tetapi, penting juga dicermati bahwa secara keseluruhan tren ekspor RI ke berbagai negara utama memang terus turun, tertekan pelemahan global dan berakhirnya booming harga komoditas.

Ke negara-negara ASEAN seperti Singapura dan Malaysia, ekspor RI juga anjlok masing-masing 31,2% dan 12,02% pada periode yang sama. Begitu juga ekspor Indonesia ke Eropa seperti ke Jerman atau Italia yang sama-sama anjlok hingga 20,73% dan 17,6%.

Untuk kawasan Asia Timur, selain kinerja ekspor ke Jepang yang anjlok, ekspor Indonesia ke China dan Taiwan juga sama-sama tergerus tajam masing-masing 16,24% dan 11,9%.

Ekspor Indonesia ke Jepang masih sangat potensial untuk produk makanan, minuman dan pertanian di mana pada tahun lalu nilai total ekspor mencapai US$24,4 miliar, turun 15% dibanding tahun sebelumnya.

Gubernur Bank of Japan, Kazuo Ueda. (Dok: Bloomberg)

Kejatuhan yen terhadap rupiah juga tak serta merta memantik lonjakan impor barang Jepang ke Indonesia. BPS mencatat, selama tiga bulan pertama tahun ini, nilai impor RI dari Jepang mencatat penurunan sampai 22,4% menjadi sebesar US$3,3 miliar. Impor Indonesia dari Jepang nilainya mencapai 7,19% dari total nilai impor RI periode tersebut.

Meski belum memberikan dampak berarti bagi kinerja perdagangan, namun pelemahan yen terhadap rupiah sejatinya bisa dimanfaatkan oleh para pengusaha untuk 'kulakan' barang dari Jepang dengan harga lebih murah, mengingat impor terbesar RI dari Jepang adalah barang produksi seperti suku cadang dan aksesoris kendaraan bermotor, produk gulungan logam juga kendaraan bermotor lain.

Terlebih Indonesia dan Jepang sejauh ini telah menyepakati kerangka kerja sama penyelesain transaksi dengan mata uang lokal (Local Currency Settlement) sejak 2020 lalu di mana para pelaku bisnis diberikan pelonggaran aturan transaksi valas mencakup perluasan instrumen linudng nilai, pelaksanaan hedging (lindung nilai) atas dasar proyeksi perdagangan dan investasi, peningkatan fleksibilitas transfer atas rekening IDR di Jepang, dan peningkatan threshold nilai transaksi tanpa dokumen underlying sampai dengan USD500.000 per transaksi.

(rui/aji)

TAG

No more pages

Artikel Terkait