Logo Bloomberg Technoz

Kemarin malam waktu Indonesia, US Bureau of Economic Analysis melaporkan indeks Personal Consumption Expenditure (PCE) AS pada Maret naik  0,3% dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/mtm). Sama seperti Februari dan sesuai dengan ekspektasi pasar.

Dibandingkan Maret 2023 (year-on-year/yoy), PCE naik 2,7%. Lebih tinggi dibandingkan perkiraan pasar yaitu 2,6%.

Kemudian PCE inti (mengeluarkan komponen makanan dan energi) tercatat 0,3% mtm. Sama seperti Februari dan ekspektasi pasar.

Sementara PCE inti secara tahunan ada di 2,8% yoy. Lebih tinggi dibandingkan ekspektasi pasar dengan perkiraan 2,6% yoy.

PCE adalah indikator pengukur inflasi yang menjadi preferensi bank sentral Federal Reserve. Saat inflasi masih tinggi, maka akan sulit bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga acuan.

Mengutip Bloomberg News, Gubernur The Fed Chicago Austan Goolsbee dalam sebuah wawancara menyebut bank sentral sepertinya harus “melakukan kalibrasi ulang” setelah inflasi yang masih saja tinggi.

Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Saat suku bunga tinggi, memegang emas menjadi tidak menguntungkan karena tidak memberikan kupon, bunga, atau imbalan apapun.

Analisis Teknikal

Bagaimana proyeksi harga emas pekan depan? Apakah akan turun lagi atau bisa bangkit?

Secara teknikal dengan perspektif mingguan (weekily time frame), emas berada di zona bullish. Terlihat dari Relative Strength Index (RSI) yang sebesar 70,01. 

RSI di atas 50 menandakan suatu aset sedang dalam posisi bullish. Namun perlu dicatat, RSI di atas 70 juga berarti sudah tergolong jenuh beli (overbought).

Oleh karena itu, sepertinya harga emas masih rentan turun lagi. Target support terdekat ada di US$ 2.327/troy ons. Jika tertembus, maka US$ 2.320/troy ons bisa menjadi target selanjutnya.

Sementara target resisten terdekat adalah US$ 2.344/troy ons. Penembusan di titik ini bisa membawa harga emas naik menuju US$ 2.357/troy ons. 

(aji)

No more pages