Logo Bloomberg Technoz

Hari ini juga akan dilangsungkan lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan target indikatif Rp11 triliun. Dengan tekanan jual yang masih besar di pasar surat utang buntut dari sentimen global yang mengikis daya tarik investasi di Indonesia, lelang sukuk negara hari ini mungkin akan terimbas.

Rupiah juga sepertinya masih akan sulit mendapatkan sokongan yang berkelanjutan dari kinerja neraca perdagangan. Surplus neraca dagang pada Maret memang melampaui perkiraan mencapai US$4,5 miliar. Namun, surplus itu diprediksi tidak akan berlanjut dengan tren ekspor yang masih turun sementara impor diperkirakan kembali naik, membuat nilai surplus ke depan diprediksi turun bahkan defisit.

Pada saat yang sama, pasar juga mungkin masih akan menghitung dampak dari rencana pemerintahan Prabowo-Gibran pada tahun pertama yang berniat menaikkan rasio pajak hingga 12% dari Produk Domestik Bruto untuk membiayai APBN. Dalam dokumen rancangan awal Rencana Kerja Pemerintah 2025, Kerangka Ekonomi Makro telah ditetapkan di mana tax ratio akan dinaikkan jadi 12% dari realisasi 2023 10,21% dan target tahun ini 10,2%.

Namun, rupiah mungkin masih mendapatkan katalis positif dari kepastian politik di mana Mahkamah Konstitusi kemarin menolak semua gugatan kubu pasangan calon Anies-Muhaimin dan Ganjar-Mahfud sehingga Prabowo-Gibran sah sebagai pemenang Pilpres 14 Februari.

Analisis teknikal

Secara teknikal nilai rupiah berpotensi menguat terbatas hari ini di kisaran sempit dengan target penguatan terdekat menuju Rp16.210-Rp16.180/US$. Level resistance potensial selanjutnya menarik dicermati pada Rp16.100/US$ sebagai level paling optimis.

Dalam jangka pendek, rupiah memiliki support di Rp16.255/US$ dan Rp16.280/US$, serta Rp16.300/US$ sebagai support terkuat yang tercermin dari pergerakan time frame daily.

Analisis Teknikal Nilai Rupiah Selasa 23 April (Divisi Riset Bloomberg Technoz)

(rui)

No more pages