Logo Bloomberg Technoz

Demam babi Afrika ini dapat berdampak pada ekonomi. Wabah ini pada 2018-2019 menghancurkan kawanan babi China, menyebabkan harga meroket dan memaksa banyak peternakan kecil gulung tikar. Lonjakan tersebut memicu inflasi karena daging babi merupakan elemen kunci dalam indeks harga konsumen China.

Data resmi tentang demam babi Afrika sulit didapat di China karena dugaan wabah biasanya tidak dilaporkan. Diperkirakan 8% hingga 15% dari produksi dapat hilang karena wabah saat ini.

Penyakit pada babi, termasuk demam babi Afrika, biasanya muncul di musim dingin. Tahun ini, wabah tampaknya lebih buruk dari biasanya, yang mungkin disebabkan oleh manajemen peternakan babi yang lemah setelah China tiba-tiba mengakhiri kebijakan ketat Covid Zero akhir tahun lalu, yang menyebabkan kekurangan pekerja. Pergerakan orang dan barang yang besar mungkin mendorong penyebaran virus babi.

Untuk saat ini, harga babi melemah karena spekulasi bahwa para petani memburu babi mereka untuk disembelih karena kekhawatiran akan penyebaran penyakit tersebut. Sementara itu, harga anak babi telah melonjak sekitar 20% sepanjang tahun ini karena pasokan yang semakin ketat.

Demam babi Afrika bukanlah ancaman bagi kesehatan manusia dan tidak dapat ditularkan dari babi ke manusia. Namun, virus ini dapat bertahan hidup di pakaian, sepatu bot, roda, dan bahan lainnya. Virus ini juga dapat bertahan dalam produk daging babi seperti ham, sosis atau bacon. Saat ini belum ada vaksin yang efektif untuk melawan penyakit ini.

(bbn)

No more pages