Logo Bloomberg Technoz

Pada Desember 2019, lanjut Lutfi,  Presiden Joko Widodo lantas mulai melarang ekspor ore nikel. Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia yang memberhentikan ekspor tersebut. Pascalarangan tersebut, sambungnya, nilai ekspor Indonesia makin melesat.

“Neraca perdagangan Desember 2019 ekspor ore kita yang berbasis nikel US$1,1 miliar [setara Rp17,4 triliun]. Ini belum bicara baterai. Januari 2020 kita liat berapa ekspor kita yang berbasis berdasarkan nikel yang sudah diolah menjadi stainless steel. Angka loncat jadi US$10,86 miliar [setara Rp 171,8 triliun],” ujar Luthfi.

Ore nikel kita diubah jadi stainless steel. Ekspornya 69% kita jual ke China, yang investasi itu perusahaan China. Kita jual ke China 69% ekspor pada Desember 2020 dengan jumlah USD10,86 miliar,” lanjutnya.

Bijih nikel./Bloomberg-Andrey Rudakov


Dicekal China-Eropa 

Nilai ekspor yang meningkat, kata Lutfi, pada akhirnya membuat China menerapkan kebijakan bea masuk tindak pengamanan (BMTP) atau safeguard dengan penalti 20% sejak akhir 2020. Negeri Panda melakukan hal ini agar industri baja nirkaratnya tidak hancur karena Indonesia. 

“Investasi China, teknologi China, uang China, investasi di Indonesia. Menaikkan nilai tambah Indonesia dari US$1,1 miliar jadi US$10,86 miliar. Ada 11 kali nilai tambah, ekspor lagi ke China 69%. Kemudian, industri China yang paling kompetitif di dunia kalah sama Indonesia, dikasih barrier [hambatan tarif] 20%,” ujar Luthfi.

Dirinya yang waktu itu merupakan menteri perdagangan periode 2020—2022 sempat khawatir bahwa kebijakan itu bakal menurunkan ekspor Indonesia.

Namun, neraca perdagangan Indonesia dengan China ternyata tetap mencatatkan hasil positif bagi ekspor Indonesia di mana pengiriman baja nirkarat tumbuh hampir dua kali lipat.

“Kuartal I itu neraca perdagangan sama China naik tinggi dominasi barang basis baja. Stainless steel loncat hampir dua kali lipat. Saya melihat ujung 2021 yang tadinya US$10,86 miliar dikasih safeguard China naik jadi US$20 miliar [setara Rp316,4 triliun]. Artinya nilai tambah dari ore luar biasa naik 100%, hampir US$20 miliar,” ujar Lutfi.

“[Ekspor pada] 2022 naik US$30 miliar [setara Rp474,6 triliun]. Ini yang kita sebut hilirisasi. Kita belum bicara baterai, baru bicara nilai tambah dari nikel. Ekspor dari nikel buat baterai baru 5%,” lanjutnya.

Selain China, kata Lutfi, Eropa juga berupaya mencekal pertumbuhan ekspor Indonesia. Eropa berupaya melindungi industri dalam negeri dengan membawa isu lingkungan dalam aktivitas hilirisasi Indonesia.

Dengan demikian, dirinya sebagai menteri perdagangan saat itu memerangi kebijakan yang dianggap diskriminatif melalui World Trade Organization (WTO). 

(dov/wdh)

No more pages