Logo Bloomberg Technoz

Starship sendiri merupakan transportasi peluncur generasi terbaru dari SpaceX yang harapannya dirancang untuk membawa muatan kargo dan orang ke luar angkasa.

SpaceX juga mendapatkan kontrak dengan NASA untuk mengembangkan Starship sebagai sistem pendaratan bulan yang dapat membawa astronot NASA ke dan dari permukaan bulan.

Perusahaan SpaceX merencanakan Starship menjadi pesawat ruang angkasa yang dapat dirakit dengan cepat.

Gwynne pun mengatakan bahwa berbeda dengan roket Falcon 9 yang proses produksi dan peluncurannya memakan waktu lebih lama, Starship dikembangkan untuk proses produksi dan peluncuran yang lebih cepat.

Jika tahun ini SpaceX dapat melakukan 100 penerbangan dengan Falcon, dia berharap juga dapat melakukan 100 penerbangan dengan Starship di tahun berikutnya. 

Tahun lalu, SpaceX dan Elon menyediakan terminal Starlink kepada pemerintah Ukraina setelah Rusia menginvasi negara tersebut. Namun Gwynne mengatakan bahwa Ukraina memanfaatkan bantuan perusahaan dengan cara yang bertolak belakang dengan maksud awal. Sejak saat itu perusahaan mencoba menghentikan layanan tersebut.

“Starlink tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi senjata,” katanya. Tujuan alat satelit itu sendiri adalah memberi bantuan untuk kemanusiaan, bank, rumah sakit, atau menjaga komunikasi dengan keluarga. 

“Saya rasa tidak masalah jika digunakan untuk komunikasi untuk militer. Kami tahu layanan itu digunakan juga oleh militer. Tapi niat kami bukan untuk membantu mereka dalam melakukan penyerangan," ucap Gwynne.

Times of London melaporkan pada Maret lalu bahwa beberapa unit militer Ukraina telah menggunakan Starlink untuk menghubungkan drone tempur mereka.

Melansir dari CNN, SpaceX telah mengirim surat ke Pentagon pada bulan September meminta agensi untuk membayar layanan Starlink Ukraina.

Namun hingga saat ini, SpaceX masih mendanai layanan tersebut. “Saat ini kami telah berhenti berinteraksi dengan Pentagon. Mereka tidak mau membayarnya.” jelas Gwynne.

(bbn)

No more pages