Meski demikian, perbedaan ideologi di antara calon mitra koalisi Eisenkot masih berpotensi menghambat langkahnya membentuk pemerintahan. Kondisi tersebut dapat membuka peluang bagi Netanyahu untuk tetap berkuasa, meski saat ini hanya menjalankan pemerintahan sementara.
Jika pemerintahan Eisenkot terbentuk, Netanyahu yang telah menjabat selama enam periode akan menjadi oposisi. Ia akan bergabung dengan kelompok sayap kanan garis keras yang kebijakannya selama konflik terbaru melawan Hamas dan Hezbollah menuai kecaman internasional serta mendorong Israel menuju isolasi global.
Eisenkot berjanji akan mengubah arah kebijakan Israel, meski belum merinci langkah-langkah yang akan ditempuh. Ia juga memiliki pandangan serupa dengan Netanyahu dalam menolak pembentukan negara Palestina serta memperingatkan ancaman Iran yang memiliki senjata nuklir.
Peluang Eisenkot membentuk pemerintahan dapat bergantung pada dua partai yang mewakili kelompok minoritas Arab Israel. Kelompok tersebut selama ini tidak banyak dilibatkan dalam pemerintahan nasional. Perolehan kursi mereka meningkat signifikan menjadi 19 kursi setelah terjadi lonjakan partisipasi pemilih.
Persoalan mengenai kemungkinan keterlibatan partai-partai Arab dalam pemerintahan turut memunculkan pertanyaan mengenai inklusivitas demokrasi Israel.
Membangun aliansi dengan partai-partai Arab dapat mengharuskan Eisenkot, yang kini berusia 66 tahun, menerima posisi mereka yang tidak mengakui Israel sebagai negara Yahudi maupun tidak mengklasifikasikan Hamas sebagai organisasi teroris.
Persyaratan tersebut berpotensi menjadi tantangan bagi Eisenkot, yang merupakan mantan panglima militer Israel dan kehilangan seorang putra serta dua keponakannya saat bertugas sebagai tentara dalam perang di Gaza.
Eisenkot juga dapat mencoba merangkul partai-partai Yahudi ultra-Ortodoks yang secara keseluruhan memperoleh 13 kursi. Kelompok tersebut dikabarkan mulai menunjukkan ketidakpuasan terhadap Netanyahu, yang selama ini menjadi sekutu politik mereka.
Namun, tuntutan partai-partai tersebut agar para pemuda dari komunitas mereka dibebaskan dari wajib militer berpotensi menjadi penghalang dalam negosiasi koalisi.
Pilihan lain bagi Eisenkot adalah membentuk pemerintahan minoritas yang secara politik cenderung lemah atau bergabung dengan Netanyahu dalam pemerintahan persatuan nasional.
Opsi terakhir tersebut berpotensi semakin terbuka apabila Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melanjutkan kampanye militer terhadap Iran. Dalam situasi tersebut, Israel diperkirakan akan diminta memberikan dukungan atau menghadapi risiko semakin retaknya hubungan Amerika Serikat dan Israel yang saat ini sudah rentan.
(bbn)




























