Logo Bloomberg Technoz

Para investor kembali masuk ke pasar pada hari Jumat, sehingga mendorong S&P 500 naik 0,3%. Namun, indeks acuan tersebut masih turun 2,5% sejak pemungutan suara ditutup pada hari Selasa. Partai Demokrat memenangkan kendali atas Senat dan DPR AS, serta sejumlah dewan perwakilan negara bagian dan jabatan gubernur di seluruh negeri.

Banyak kandidat yang menang berjanji untuk mengawasi pengembangan pusat data dan memperketat regulasi.

Anjloknya pasar ini menjadi bukti bahwa aksi jual besar-besaran di indeks S&P 500 dalam beberapa pekan terakhir hampir berakhir, bukan pertanda bahwa tren investasi berbasis AI sedang runtuh—yang justru akan menandakan penderitaan lebih lanjut di masa depan—demikian argumen Wilson dan banyak rekan-rekannya di Wall Street.

“Kita memang pernah mengalami bubble AI, dan saya rasa bubble itu kini mulai menciut ,” kata Ed Yardeni, kepala strategi investasi di Yardeni Research, dalam sebuah wawancara pada Kamis. 

Tekanan jual saham teknologi di AS

“Saat bubble itu meledak, hal itu akan berdampak negatif yang signifikan terhadap perekonomian, dan saya tidak melihat hal itu akan terjadi.”

Wilson merekomendasikan agar investor memborong saham-saham yang berfokus pada konsumen, terutama jika suku bunga dan harga minyak terus turun, sementara Yardeni lebih menyukai saham-saham sektor kesehatan.

“Saya memandangnya sebagai koreksi,” kata Yardeni, yang menetapkan target akhir tahun untuk S&P 500 sebesar 7.900. “Saya sudah mengantisipasi peluang beli setelah pemilu, dan saya rasa kita mulai melihat beberapa peluang yang cukup bagus.”

Tak Menyangka Ada Kejatuhan

Banyak trading desk di Wall Street kaget oleh kejatuhan pasar pada hari Kamis setelah sebelumnya menyarankan klien untuk kembali masuk ke pasar pasca pemilu. Indeks S&P 500 naik 1,6% pada hari Rabu karena para investor awalnya menyambut gembira hasil pemilu tersebut.

“Ada ruang yang cukup besar bagi para investor untuk kembali mengambil risiko,” tulis Scott Rubner, kepala strategi ekuitas dan derivatif ekuitas, dalam sebuah catatan kepada klien pada hari Rabu.

“Sejalan dengan meredanya ketidakpastian dan kembalinya beberapa pembeli terbesar di pasar, kami meyakini bahwa arah pergerakan saham AS yang paling mungkin adalah naik hingga akhir tahun.”

Namun, pada penutupan perdagangan Kamis, nilai pasar sebesar US$3 triliun telah terhapus dari indeks S&P 500.

Meski demikian, sebagian besar ahli strategi tetap tak gentar. Target rata-rata akhir tahun untuk indeks acuan ini adalah 7.973, menurut data yang dikumpulkan oleh Bloomberg.

“Akan tidak bijaksana untuk keluar dari pasar setelah pasar mengalami sedikit koreksi sebagai respons terhadap hasil pemilu,” kata Jonathan Golub, kepala ahli strategi ekuitas di Seaport Global Holdings, yang memperkirakan S&P 500 akan menutup tahun ini di level 8.200. “Saya adalah pembeli yang tegas.”

Salah satu hambatan utama bagi rebound S&P 500 adalah kelemahan yang masih terjadi pada sektor AI, yang telah mendorong indeks acuan ini naik selama sebagian besar periode pasar bullish yang telah berlangsung selama empat tahun.

Indeks Semikonduktor Bursa Efek Philadelphia anjlok 12% pada hari Kamis dan masih turun 36% dari puncaknya di bulan Juni.

“Sektor semikonduktor dan perdagangan infrastruktur AI yang benar-benar menggerakkan pasar sepanjang tahun ini akan terus berada di bawah tekanan,” kata Ohsung Kwon, kepala strategi ekuitas di Wells Fargo. “Supaya pasar bisa naik lebih tinggi lagi dari sini, Anda membutuhkan kontribusi dari perdagangan beta tinggi.”

Namun, jika kekhawatiran mengenai perlambatan pengembangan AI terus berlanjut, raksasa teknologi seperti Alphabet Inc. dan Amazon.com Inc.—yang telah membuat investor cemas akibat investasi besar-besaran mereka di bidang teknologi tersebut—kemungkinan akan memberikan dukungan kenaikan harga, didorong oleh ekspektasi bahwa mereka akan terpaksa memangkas pengeluaran, menurut Kwon, yang menetapkan target harga 7.700.

“Kami tidak ingin terlalu pesimistis dalam hal ini,” ucap dia.

(bbn)

No more pages