Logo Bloomberg Technoz

"Kami menerapkan pendekatan bertahap dengan memprioritaskan token berdasarkan data permintaan pengguna selama sepekan terakhir. Dengan demikian, setiap jaringan dan pasangan aset dapat dipulihkan secara cermat, melalui pemeriksaan stabilitas dan keamanan yang menyeluruh sebelum akses dibuka kembali," ungkap Binance.

Menurut perusahaan tersebut, penarikan dana pada 12 jaringan blockchain—termasuk Ethereum, BNB Smart Chain, XRP, dan Base—telah kembali beroperasi sekitar pukul 19.30.

Langkah pemulihan ini menjadi ujian bagi janji Binance untuk mengganti kerugian nasabah sepenuhnya, menyusul pencurian yang nilainya empat kali lebih besar daripada rekor peretasan kripto sebelumnya, yakni insiden di Bybit pada tahun 2025. Biro Investigasi Federal (FBI) AS menyatakan pada hari Sabtu bahwa serangan terhadap Binance dilakukan oleh TraderTraitor, unit peretas elite asal Korea Utara yang juga dianggap bertanggung jawab atas pencurian senilai sekitar US$1,5 miliar di Bybit.

Dampak terhadap pasar tampak relatif terkendali; sebagian besar mata uang kripto utama mencatat perubahan harga kurang dari 1% pada hari Minggu. Bitcoin, yang mencakup sekitar 60% dari total nilai pasar sektor ini, diperdagangkan di kisaran US$78.000—sekitar 5% di bawah level tertinggi yang dicapai pada hari Kamis, sebelum serangan terjadi.

“Pada tingkat tertentu, hal ini menunjukkan betapa industri ini telah matang,” ujar Haseeb Qureshi, mitra pengelola di perusahaan modal ventura Dragonfly. “Kami melihat respons yang sangat cepat.”

Binance menyatakan bahwa hingga saat ini, mereka telah mengganti sekitar 90% mata uang kripto yang dicuri dengan menggunakan kas perusahaan, dana darurat, serta dana asuransi mereka. Aset yang terkuras dalam serangan tersebut mencakup berbagai mata uang kripto utama di 10 blockchain, termasuk Bitcoin dan Ethereum.

“Komitmen kami tetap tidak berubah: Binance akan menanggung dampak finansial dari dana yang dicuri tersebut,” ungkap pihak perusahaan. “Kerugian ini tidak akan dibebankan kepada para pengguna.”

Bursa kripto tersebut mampu menutupi kerugian berkat investasi berkelanjutan dari pendapatan mereka ke dalam mata uang kripto, jelas salah satu CEO Binance, Richard Teng, dalam sebuah video yang diunggah di media sosial pada hari Jumat. Yi He, yang juga menjabat sebagai CEO bersama, menyatakan bahwa pendapatan Binance tahun ini akan mampu menutupi seluruh jumlah yang hilang.

Total biaya akhir yang harus ditanggung Binance masih belum jelas. Pihak bursa menyebutkan bahwa hingga hari Jumat, aset senilai sekitar $3 miliar yang terdampak telah dibekukan, meskipun hal ini tidak berarti aset tersebut telah berhasil dipulihkan.

Serangkaian serangan tahun ini terhadap perusahaan kripto dan industri keuangan secara lebih luas telah meningkatkan kekhawatiran bahwa kecerdasan buatan (AI) membuat peretas menjadi lebih efektif. Beberapa pakar keamanan meyakini bahwa peretas asal Korea Utara telah mengintegrasikan perangkat AI ke dalam metode serangan mereka, terutama untuk membantu dalam tahap pengintaian dan rekayasa sosial.

Bersama dengan FBI, perusahaan intelijen blockchain seperti TRM Labs, Chainalysis, dan Elliptic, semuanya menunjuk peretas dari Korea Utara sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan terhadap Binance.

Serangan-serangan ini mengungkap kelemahan keamanan di saat industri kripto berupaya merambah ke sektor keuangan arus utama. Pada bulan September, dana senilai ratusan juta dolar terkuras dari Bitget. Peretas juga mencuri Bitcoin senilai lebih dari US$100 juta dari dompet yang diamankan dengan perangkat buatan Coinkite Inc., sementara manipulasi yang melibatkan perangkat Ledger menyebabkan kerugian hingga jutaan dolar.

Serangan siber lain yang terjadi baru-baru ini juga menyasar pasar prediksi Polymarket, perusahaan keuangan Korea Selatan Mirae Asset Global Investments dan Daishin Securities, serta platform perdagangan mata uang asal Jepang, GMO Internet Group Inc.

Skala Binance jauh lebih besar dibandingkan para pesaingnya di industri ini. Menurut data DefiLlama, platform ini memegang aset senilai kurang lebih US$134 miliar, dibandingkan dengan sekitar US$29 miliar di bursa terbesar kedua, OKX. Berdasarkan data DefiLlama per pukul 19.30 waktu Singapura, Binance mencatat arus keluar bersih sebesar US$2,5 miliar setelah layanan penarikan kembali dibuka.

Pada hari Jumat, Yi dan Teng menanggapi potensi kerusakan reputasi yang mungkin timbul akibat serangan tersebut. Dalam sebuah video yang diunggah di X, Yi berjanji bahwa Binance akan terus bekerja sama dengan penegak hukum untuk melacak para pelaku serangan. Perusahaan juga berkomitmen untuk mengganti dana pengguna yang hilang akibat peretasan ini.

“Kami tidak akan membiarkan para peretas merenggut momentum yang layak didapatkan oleh industri ini,” ujarnya dalam video tersebut, yang disampaikan dalam bahasa Mandarin. “Tentu saja, ada aspek-aspek yang bisa kami tangani dengan lebih baik. Seharusnya kami berinvestasi lebih banyak pada keamanan sejak awal dan menetapkan standar yang lebih ketat. Ke depannya, kami tidak akan menahan diri—baik dalam hal investasi keamanan maupun upaya melawan para peretas.”

Menurut pihak bursa, Binance telah membentuk cadangan darurat yang disebut Secure Asset Fund for Users (SAFU) pada tahun 2018 sebagai jaring pengaman bagi nasabah dalam situasi ekstrem. Binance menyatakan pada tahun 2024 bahwa nilai SAFU umumnya dijaga di kisaran US$1 miliar, meskipun jumlah tersebut sempat berfluktuasi di masa lalu seiring dengan pergerakan pasar.

Sebelumnya, Binance mengungkapkan bahwa insiden ini mungkin melibatkan laptop seorang insinyur perangkat lunak yang telah disusupi, serta “titik-titik pelanggaran keamanan lainnya.” Pihak bursa menyatakan tidak menemukan bukti adanya kebocoran kunci privat

(bbn)

No more pages