Logo Bloomberg Technoz

Menurut Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), permintaan terhadap teknologi penyemaian awan di seluruh dunia meningkat dalam beberapa tahun terakhir seiring dengan kondisi cuaca yang semakin tidak menentu. Tren ini juga terjadi di Asia Tenggara, tempat teknik tersebut terutama digunakan untuk mengisi kembali waduk dan mendukung pertumbuhan tanaman, serta mengurai kabut asap selama musim kebakaran hutan tahunan.

Namun, wilayah tropis menghadapi tantangan tambahan. Di wilayah yang lebih dekat dengan garis khatulistiwa, formasi awan berubah lebih cepat dibandingkan dengan wilayah lintang tengah yang lebih sejuk. Di wilayah lintang tengah, penelitian yang lebih mapan telah dilakukan untuk mengukur peningkatan curah hujan sebagai hasil penyemaian awan.

“Variasi alaminya sangat besar” pada awan pembawa hujan yang menjadi sasaran operasi di Malaysia dan Indonesia, kata Siems. Ia menambahkan, khususnya di wilayah tropis, “rangkaian proses ilmiah secara menyeluruh”—mulai dari penyemaian awan hingga peningkatan curah hujan—“belum benar-benar terbukti bagi komunitas ilmiah yang lebih luas.”

Tahun ini, curah hujan sangat minim di sejumlah wilayah Asia Tenggara. Data perusahaan analisis cuaca Atmospheric G2 menunjukkan bahwa, dibandingkan dengan rata-rata 30 tahun, Indonesia hanya menerima seperlima dari curah hujan normal, sedangkan Malaysia sepertiga, selama periode Juni hingga 25 Oktober. Dalam kondisi yang jauh lebih kering dari biasanya, efektivitas penyemaian awan secara alami menjadi terbatas.

“Seperti namanya, penyemaian awan membutuhkan keberadaan awan terlebih dahulu,” kata Budi Harsoyo, Direktur Operasi Modifikasi Cuaca di Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). “Ketika kondisi atmosfer kering, awan yang sesuai, seperti awan kumulus, sangat sulit ditemukan.”

Harsoyo tidak memberikan perkiraan kuantitatif mengenai jumlah curah hujan yang mungkin dihasilkan dari operasi modifikasi cuaca tahun ini. Ia mengatakan, untuk mengevaluasi operasi tersebut, BMKG membandingkan jalur penerbangan dan lokasi penyemaian dengan data radar serta satelit guna menentukan apakah curah hujan kemungkinan dipengaruhi oleh penyemaian awan.

Dengan metode yang tidak lazim, Indonesia juga telah menguji penggunaan es kering untuk mengurai kabut asap yang terperangkap di dekat permukaan tanah. Berbeda dengan penyemaian awan, teknik ini bertujuan mendinginkan udara di sekitarnya secara cepat, melemahkan inversi suhu, dan memungkinkan kabut asap menyebar.

Setelah uji coba penerbangan pertama di Provinsi Sumatra Selatan pada bulan ini, BMKG melaporkan adanya perbaikan jarak pandang di sejumlah lokasi serta penurunan konsentrasi polusi udara berupa partikel halus. Namun, lembaga tersebut menambahkan bahwa evaluasi lebih lanjut diperlukan untuk menentukan seberapa besar perbaikan itu disebabkan oleh penggunaan es kering, bukan faktor atmosfer lainnya.

Sementara itu, Indonesia dan Malaysia terus melanjutkan upaya penyemaian awan. Hingga 23 Oktober, Indonesia telah melakukan 56 operasi sepanjang tahun ini yang melibatkan 777 penerbangan. Jumlah tersebut hampir tiga kali lipat dibandingkan tahun lalu dan lebih dari tujuh kali lipat total pada 2024, menurut data BMKG. Peningkatan ini terjadi meskipun formasi awan terbatas akibat kondisi atmosfer yang kering.

Operasi penerbangan semacam ini tidak murah. Di Indonesia, biayanya berkisar antara Rp200 juta hingga Rp300 juta per hari, dengan asumsi durasi penerbangan sekitar dua jam, kata Harsoyo. Operator swasta umumnya mengenakan biaya hingga 40% lebih tinggi untuk menutupi pajak, gaji, dan pengeluaran lainnya.

Di Malaysia, satu operasi penyemaian awan menelan biaya rata-rata sekitar 100.000 ringgit Malaysia (US$24.500), menurut Menteri Sumber Daya Alam dan Keberlanjutan Lingkungan Arthur Joseph Kurup, sebagaimana dikutip surat kabar lokal The Star awal bulan ini. Berdasarkan data MetMalaysia, badan meteorologi nasional Malaysia, negara tersebut telah menjalankan 65 operasi sepanjang tahun ini, jumlah terbanyak dalam satu dekade.

“Operasi ini dilakukan bukan hanya untuk mengatasi kabut asap, tetapi juga untuk meningkatkan ketinggian air dan mengisi waduk,” kata Ambun Dindang, Wakil Direktur Jenderal Operasi MetMalaysia. Ia menambahkan, setiap misi dievaluasi dengan mengamati perkembangan awan melalui radar. Pilot juga terbang menembus awan yang baru disemai untuk melihat apakah terdapat tambahan kelembapan pada kaca depan kokpit.

Tentu saja, modifikasi cuaca hanyalah salah satu cara yang ditempuh otoritas Indonesia untuk memadamkan kebakaran hutan. Pemerintah juga mengerahkan petugas pemadam kebakaran di darat serta melakukan pemadaman dari udara dengan menjatuhkan air.

“Prioritas utama tetap memadamkan api dari sumbernya,” kata Harsoyo. “Kebakaran hutan tidak bisa ditangani hanya dengan satu intervensi.”

(bbn)

No more pages