“Harga emas terseret turun akibat kekhawatiran seputar harga minyak dan arah suku bunga acuan. Arus modal sedang negatif, dengan aksi jual yang tinggi,” tegas Ryan McKay, Commodity Strategist di TD Securities, seperti dikutip dari Bloomberg News.
Harga minyak dunia memang sedang bergerak naik, seiring bara konflik Timur Tengah yang tak kunjung padam. Sepanjang pekan lalu, harga minyak jenis brent melejit 6,24% point-to-point.
Tingginya harga energi membuat dunia masih diselimuti ancaman inflasi. Alhasil, bank sentral di berbagai negara (termasuk Federal Reserve di Amerika Serikat/AS) sepertinya sulit untuk tidak mengetatkan kebijakan moneter melalui kenaikan suku bunga acuan.
Mengutip CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga acuan di Negeri Paman Sam sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4-4,25% dalam rapat Oktober memang hanya 9,4%. Namun dalam pertemuan Desember, kemungkinannya adalah 72,1%.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga tinggi.
“Kami masih dalam posisi berhati-hati dalam waktu dekat. Aksi jual massal (sell-off) terbaru menjadi cermin bahwa risiko inflasi masih menghantui,” kata Christopher Wong, Analis Oversea-Chinese Banking Corp, juga dikutip dari Bloomberg News.
(aji)






























