Logo Bloomberg Technoz

Sebagai contoh, gempa Panama bermagnitudo 7,7 berkaitan dengan mekanisme sesar mendatar. Sementara itu, aktivitas gempa di Dataran Tinggi Tibet berkaitan dengan deformasi kerak bumi akibat tumbukan Lempeng India dan Eurasia.

Daryono juga menjelaskan bahwa gempa besar tidak selalu bersumber dari kedalaman dangkal. Gempa dapat terjadi pada kedalaman dangkal, menengah, hingga dalam. 

"Gempa pada kedalaman menengah hingga dalam umumnya berkaitan dengan deformasi lempeng yang menunjam ke dalam mantel bumi,"katanya.

Adapun gempa dangkal cenderung menghasilkan guncangan lebih kuat di sekitar sumbernya, terutama apabila terjadi di dekat kawasan permukiman. 

Karena itu, dampak gempa tidak hanya ditentukan oleh magnitudo, tetapi juga kedalaman, jarak dari sumber gempa, serta tingkat kerentanan wilayah yang terdampak.

Lebih lanjut, banyaknya gempa besar dalam satu tahun bukan bukti bahwa Bumi sedang mengalami peningkatan aktivitas tektonik yang tidak normal. Jumlah kejadian gempa dapat berfluktuasi secara alamiah dari tahun ke tahun.

Untuk memastikan adanya peningkatan aktivitas seismik secara signifikan, diperlukan analisis statistik terhadap katalog gempa dalam jangka panjang. Penghitungan jumlah kejadian dalam satu tahun saja tidak cukup untuk menyimpulkan adanya peningkatan aktivitas tektonik.

Daryono menegaskan, gempa besar yang terjadi di berbagai negara juga tidak otomatis saling berkaitan. Setiap wilayah memiliki sistem tektonik dan kondisi akumulasi tegangan yang berbeda. 

"Kejadian gempa yang berdekatan waktunya tidak cukup menjadi bukti adanya hubungan sebab-akibat maupun dasar untuk memprediksi gempa besar berikutnya,"katanya.

Bagi Indonesia, rangkaian gempa besar di berbagai belahan dunia menjadi pengingat bahwa ancaman gempa merupakan kenyataan geologis yang harus dihadapi. Indonesia berada pada pertemuan lempeng-lempeng tektonik aktif sehingga memiliki potensi gempa kuat dan tsunami di berbagai wilayah.

Meskipun manusia belum mampu memprediksi secara tepat kapan dan di mana gempa besar akan terjadi, pengetahuan ilmiah telah memungkinkan identifikasi kawasan rawan serta upaya pengurangan risiko bencana.

"Oleh karena itu, mitigasi tidak boleh menunggu bencana terjadi. Bangunan perlu dirancang tahan gempa, tata ruang harus berbasis risiko, masyarakat perlu memahami cara menyelamatkan diri, dan sistem peringatan dini tsunami harus berfungsi efektif,"imbuh Daryono.

Pengurangan risiko gempa perlu menjadi investasi keselamatan jangka panjang, bukan sekadar perhatian sesaat setelah bencana terjadi. Gempa merupakan proses alam yang tidak dapat dicegah, tetapi besarnya korban jiwa dan kerusakan dapat dikurangi melalui penguatan mitigasi dan kesiapsiagaan masyarakat.

Daftar 13 Gempa Besar Dunia Sepanjang 2026:

  1. 23 Februari 2026 — Malaysia (Sabah) — M7,1
  2. 24 Maret 2026 — Tonga — M7,5
  3. 30 Maret 2026 — Vanuatu — M7,3
  4. 2 April 2026 — Indonesia (Laut Maluku) — M7,4
  5. 20 April 2026 — Jepang — M7,4
  6. 8 Juni 2026 — Filipina — M7,8
  7. 25 Juni 2026 — Venezuela — M7,2
  8. 25 Juni 2026 — Venezuela — M7,5
  9. 17 Juli 2026 — Meksiko — M7,3
  10. 10 Agustus 2026 — Kolombia — M7,4
  11. 15 Agustus 2026 — Indonesia (Flores) — M7,7
  12. 10 Oktober 2026 — Panama — M7,7
  13. 22 Oktober 2026 — China (Tibet) — M7,0

(dec/spt)

No more pages