Logo Bloomberg Technoz

Tingginya harga energi membuat dunia masih diselimuti ancaman inflasi. Alhasil, bank sentral di berbagai negara (termasuk Federal Reserve di Amerika Serikat/AS) sepertinya sulit untuk tidak mengetatkan kebijakan moneter melalui kenaikan suku bunga acuan.

Mengutip CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga acuan di Negeri Paman Sam sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4-4,25% dalam rapat Oktober memang hanya 9,4%. Namun dalam pertemuan Desember, kemungkinannya adalah 72,1%.

Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga tinggi.

“Kami masih dalam posisi berhati-hati dalam waktu dekat. Aksi jual massal (sell-off) terbaru menjadi cermin bahwa risiko inflasi masih menghantui,” kata Christopher Wong, Analis Oversea-Chinese Banking Corp, juga dikutip dari Bloomberg News.

Analisis Teknikal

Lantas bagaimana perkiraan gerak harga emas untuk pekan ini? Apakah bisa bangkit atau malah makin terjepit?

Secara teknikal dengan perspektif mingguan (weekly time frame), emas tersangkut di zona bearish. Terbukti dengan Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 38. RSI di bawah 50 mengindikasikan suatu aset sedang dalam posisi bearish. 

Adapun indikator Stochastic RSI 14 hari ada di 11. Sudah di bawah 20 yang artinya tergolong jenuh jual (oversold).

Untuk perdagangan pekan ini, harga emas berpeluang naik. Cermati pivot point di US$ 4.054/troy ons. Jika tertembus, maka harga sang logam mulia berpotensi mengetes level US$ 4.098-4.239/troy ons.

Target paling optimistis adalah US$ 4.318/troy ons.

Namun apabila harga emas turun lagi, maka US$ 3.976/troy ons sepertinya bisa menjadi support terdekat. Penembusan di titik ini berisiko membuat harga melorot ke US$ 3.917-3.878/troy ons.

Target paling pesimistis ada di US$ 3.703/troy ons.

(aji)

No more pages