Logo Bloomberg Technoz

“Jadi tekanan rupiah saat ini bukan hanya persoalan capital flow, tetapi juga meningkatnya kebutuhan dolar dari sisi transaksi berjalan,” katanya

Ketiga, ruang kebijakan BI menjadi lebih sempit setelah The Fed lebih hawkish. BI kemarin mempertahankan BI Rate di 5,75% dan memilih memperkuat instrumen stabilisasi valas, termasuk meningkatkan insentif swap dan DNDF untuk menarik serta mempertahankan pasokan valas domestik.

“Untuk saat ini, menurut kami BI belum perlu langsung merespons pergerakan satu hari dengan kenaikan suku bunga,” katanya.

Menurutnya, pertahanan utama tetap melalui intervensi terukur di pasar spot, DNDF dan SBN, sekaligus menjaga daya tarik aset rupiah dan memperkuat supply valas melalui instrumen hedging.

Namun, jika tekanan rupiah menjadi persisten, disertai outflow yang besar, harga minyak tetap tinggi dan mulai meningkatkan risiko inflasi, maka ruang kenaikan BI Rate secara pre-emptive tetap terbuka.

“Dalam pandangan kami, BI Rate masih berpotensi bergerak menuju 6,25% pada akhir 2026 apabila tekanan eksternal tersebut tidak mereda,” katanya.

Rupiah membuka perdagangan Kamis (24/9/2026) dengan pelemahan 0,26% ke Rp17.846/US$, seiring tekanan eksternal kembali meningkat. Tak lama, rupiah kembali terpeleset 0,32% ke Rp17.857/US$ pada 09:02 WIB. 

Indeks dolar Amerika Serikat (AS) kembali naik 101,2, disusul yield US Treasury naik 15,5 basis poin (bps) jadi 5,11%. Belum lagi, pergerakan harga minyak yang menanjak ke US$102,05/barel semakin menambah kekhawatiran pasar soal inflasi. 

Kemarin, Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan BI Rate di 5,75%. Keputusan itu memberi ruang bagi BI untuk melihat perkembangan perekonomian usai kenaikan sebesar 100 bps. Namun, kenaikan 100 bps itu juga membuat ruang BI untuk merespons melalui suku bunga juga tidak selebar sebelumnya. 

(ell)

No more pages