Liburan Chuseok, yang dimulai pada Kamis, membuat upaya penyeimbangan menjadi semakin sulit. Banyak warga Korea Selatan yang bepergian ke berbagai penjuru negeri untuk mengunjungi keluarga, sehingga menambah pengeluaran rumah tangga dan permintaan bahan bakar.
Pemerintah telah mengambil langkah-langkah ekstra untuk meringankan beban tersebut, termasuk diskon di SPBU jalan tol.
Namun, para ekonom mempertanyakan seberapa lama pemerintah bisa terus melindungi pengendara dari minyak mahal tanpa membebani keuangan publik, mendistorsi pasar, dan menunda penyesuaian terhadap kenaikan biaya energi.
Pada Jumat, Kementerian Perdagangan, Industri, dan Sumber Daya Korea Selatan mempertahankan batasan harga tersebut tanpa perubahan selama empat minggu ke depan, dengan alasan meningkatnya inflasi konsumen dan volatilitas harga minyak akibat ketidakpastian di Timur Tengah.
Langkah ini memberikan sedikit kelonggaran karena inflasi masih jauh di atas target 2% Bank of Korea dan rumah tangga bergulat dengan tekanan biaya hidup yang lebih luas, yang telah mendorong tingkat dukungan terhadap Presiden Lee Jae Myung ke rekor terendah.
Namun, menjaga harga bahan bakar tetap murah juga dapat mengurangi insentif bagi konsumen untuk mengurangi konsumsi bahan bakar pada saat Korea Selatan, salah satu importir energi terbesar di dunia, masih rentan atas guncangan minyak global. Para ahli memperingatkan harga yang stabil mungkin menciptakan rasa aman yang semu.
"Jika pemerintah terus memaksakan penurunan harga, masyarakat tidak akan menyadari bahwa harga minyak sedang naik," kata Sonn Yang-hoon, profesor emeritus ekonomi dari Universitas Nasional Incheon.
Pembatasan harga seperti itu juga menguntungkan pengguna berat, kata Sonn, sementara pembayar pajak menanggung biayanya. "Hal ini membutuhkan dana publik dalam jumlah besar," tambahnya.
Korea Selatan bukan satu-satunya negara yang melindungi pengendara dari guncangan energi global. Intervensi yang dilakukan negara ini termasuk yang paling langsung di antara negara-negara maju.
Di AS dan sebagian besar Eropa, kenaikan harga bahan bakar grosir terus mengalir ke pengendara dengan relatif cepat, bahkan ketika sejumlah negara telah memotong pajak atau menawarkan bantuan lainnya. Perekonomian Asia lainnya seperti Singapura membiarkan harga naik.
Namun, Korea Selatan membatasi harga yang dapat dibebankan oleh penyuling kepada distributor dan berjanji akan mengganti selisihnya, sehingga melemahkan hubungan antara pasar internasional dan harga di dalam negeri.
Salah satu dari sedikit negara yang melakukan intervensi secara langsung adalah negara tetangganya, Jepang, yang memberikan subsidi miliaran dolar kepada pedagang grosir untuk menjaga harga bensin tetap rendah.
Saat harga minyak Brent melonjak hingga US$110 per barel bulan ini, Korea Selatan tetap membatasi harga bahan bakar grosir di 1.784 won per liter untuk bensin dan 1.773 won per liter untuk solar.
Pekan lalu, harga rata-rata bensin di SPBU turun selama 18 pekan berturut-turut. Korea Selatan juga memangkas pajak bahan bakar dan membatasi ekspor, sementara pemerintah di negara lain beralih ke langkah-langkah penghematan energi di tengah konflik yang tak kunjung berakhir.
Pemerintah Korea Selatan telah berjanji akan memberikan kompensasi kepada penyuling atas kerugian mereka. Pada April, pemerintah mengalokasikan 4,2 triliun won untuk enam bulan pertama pembatasan harga dan 1,5 triliun won lagi untuk menutupi perpanjangan kebijakan tersebut.
Perusahaan penyulingan belum menerima pembayaran, dan perbedaan cara menghitung kerugian bakal semakin menunda kompensasi, sehingga sulit untuk menentukan biaya akhir yang harus ditanggung oleh pembayar pajak.
Pada minggu-minggu awal perang, Presiden Lee mengimbau seluruh rakyat untuk "menghemat setiap tetes bahan bakar."
Meski ketegangan kembali memuncak, ia menyampaikan pendapat yang berbeda bulan ini, menulis dalam unggahan media sosial bahwa tidak ada alasan untuk khawatir, karena kontrol ekspor, pertukaran cadangan minyak, dan diversifikasi impor akan terus menstabilkan harga bahan bakar.
Namun, intervensi semacam itu tidak banyak mengubah perilaku mengemudi. "Dulu, lonjakan harga bahan bakar akan secara signifikan mengurangi volume lalu lintas," kata Park Yeong, pekerja kantoran yang sedang mengisi bahan bakar di SPBU swalayan di Seoul.
"Sekarang, ada terlalu banyak mobil di jalan," katanya.
(bbn)
































