"Di tengah-tengah situasi [geopolitik] yang seperti itu kita melihat bahwa Indonesia itu terus mampu resilient. Resilient itu berarti memiliki daya tahan. Mampu tumbuh tetap solid di semester I-2026. Pertumbuhan ekonomi tetap kuat, inflasi terkendali," ujarnya.
Di sisi lain, pemimpin otoritas fiskal tersebut turut membeberkan tiga strategi fiskal utamanya. Pertama, mengumpulkan penerimaan negara dan meningkatkan tax ratio.
"Artinya, peningkatan penerimaan negara. Ini tentu kita lakukan dengan meningkatkan kepatuhan, memperluas basis pajak, dan implementasi coretax yang efektif," kata Suahasil.
Ia juga mengatakan bahwa pemerintah berencana menyelaraskan sistem perpajakan dengan perkembangan global dan ekonomi digital dan terus mengoptimalkan penerimaan berbagai macam sumber.
Pemerintah, kata dia juga akan mengoptimalisasi sistem coretax yang diklaim bahwa saat ini sudah terintegrasi dengan bukti potong dari berbagai tempat.
"Selain mengumpulkan lebih banyak, APBN juga harus terus mempertajam belanja, meningkatkan efisiensi belanja dan targeting," sebut Suahasil.
Lewat penajaman belanja tersebut tak sekedar dengan memotong anggaraan saja, namun juga meningkatkan efisiensi.
Hal ini supaya belanja pemerintah dapat masuk ke titik-titik prioritas sehingga dapat mendorong pertumbuhan, memperbaiki kesejahteraan, mendorong program prioritas nasional serta harmonisasi antara pusat dan daerah.
Ia menggarisbawahi sinergi pusat dan daerah dilakukaan dengan sinergi APBN dan APBD sebagau satu kesatuan peran negara menyentuh kehidupan masyarakat sehingga menjadi lebih baik.
(prc/lav)



























