Logo Bloomberg Technoz

Saham-saham barang baku, saham energi, dan saham konsumen non primer menjadi pendorong penguatan IHSG bullish hingga melesat di zona hijau, dengan menguat hingga 3,47%, 2,59%, dan 2,49%.

Saham-saham LQ45 juga tercatat melesat pada penutupan perdagangan hari ini, saham PT Indika Energy Tbk (INDY) terbang 10%, saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) melesat 9,21%, dan saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) terapresiasi 8,82%.

Senada, tren positif juga terjadi pada saham LQ45 berikut, saham PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) mencatat penguatan 5,99%, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menguat 4,89%, juga saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) hijau 3,96%.

Bursa Asia bergerak bervariasi pada hari ini. KOSDAQ (Korea Selatan), KOSPI (Korea Selatan), TW Weighted Index (Taiwan), SETI (Thailand), dan SENSEX (India) berhasil menemani IHSG di zona hijau. Terlebih penguatan pasar saham Indonesia berhasil memimpin Bursa Saham Asia.

Sementara itu, jauh di sisi berseberangan, Hang Seng (Hong Kong), Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam), CSI 300 (China), Shenzhen Comp (China), FTSE KLCI (Malaysia), Shanghai, PSEI (Filipina), dan Strait Times (Singapura), ditutup terpeleset di zona merah.

Bank Sentral Indonesia Tahan BI Rate Tetap di 5,75%

Bank Indonesia (BI) mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode September 2026. Satu yang ditunggu tentu pengumuman suku bunga acuan BI Rate.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 22–23 September 2025 memutuskan mempertahankan BI Rate tetap di level 5,75%, suku bunga deposit facility juga tetap bertahan di level 4,75%, dan suku bunga lending facility kembali di angka 6,5%.

Hasil ini sesuai dengan ekspektasi pasar yang meramal keputusan ‘hold’ pada RDG BI hari ini. Konsensus 36 ekonom atau analis disurvei oleh Bloomberg menghasilkan median tetap 5,75% untuk BI Rate, setelah kenaikan yang cukup agresif 100 basispoin pada Mei dan Juni 2026 lalu.

“Keputusan ini tetap konsisten dengan strategi stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih kuat guna mendukung pencapaian sasaran inflasi pada 2026 dan 2027, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” papar Destry dalam Konferensi Pers hasil RDG BI hari ini, Rabu (23/9/2026).

Lebih lanjut, Destry mengatakan BI akan terus memperkuat kebijakan insentif untuk menarik aliran masuk modal asing dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas. 

Sementara, BI juga masih akan melanjutkan kebijakan makroprudensial dan kebijakan sistem pembayaran akan tetap diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. 

“Kebijakan makroprudensial longgar terus diperkuat guna meningkatkan kredit pembiayaan ke sektor riil dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan,” papar Destry.

Panin Sekuritas dalam catatannya menilai Bank Indonesia akan melanjutkan fase wait and see, dengan mengimbangi prospek global growth yang melambat dengan potensi capital flight imbas pengetatan moneter global.

“Kami mencermati BI masih comfortable dengan real yield differential antara SBN dengan UST (obligasi AS) yang telah melebar pasca kenaikan BI Rate 100bps pada Mei 2026 dan Juni 2026, lalu dilengkapi dengan kebijakan non-suku bunga via perluasan instrumen insentif foreign flow serta intervensi rupiah di pasar valas,” jelas Panin Sekuritas siang hari ini.

Di sisi lain, BI tetap mendorong langkah pro-growth (mendorong jumlah uang beredar tetap terjaga, dengan komitmen pertumbuhan M0 tetap dijaga >10% YoY). 

Keputusan hold rate ini juga konsisten dengan upaya BI yang tengah mengurangi issuance SRBI agar likuiditas pasar uang, khususnya ke sektor perbankan, tidak terlalu mengetat, hingga menjaga momentum pertumbuhan kredit. Panin Sekuritas menilai tetap mempertahankan pandangan mengenai BI Rate yang masih memiliki ruang kenaikan hingga 6,25% pada tahun ini seiring prospek inflasi yang naik hingga batas atas BI di +3,5% YoY dan defisit transaksi berjalan yang akan melebar ke -0,9% PDB pada tahun ini. 

(fad)

No more pages