Kenaikan ini terjadi usai harga emas dunia terkoreksi hampir 1% pada perdagangan awal pekan. Harga yang sudah ‘murah’ sepertinya membuat investor tergoda dan kembali melirik emas.
Selain itu, sepertinya koreksi harga minyak dunia juga menjadi angin segar bagi emas. Kemarin, harga emas jenis Brent terpangkas 1,68% ke US$ 98,48/barel.
Harga si emas hitam sudah turun lima hari beruntun. Selama lima hari tersebut, harga ambruk hampir 9,5%.
Penyebab kejatuhan harga emas adalah harapan damai di Timur Tengah. Di sela-sela acara Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengindikasikan siap untuk bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
Jika harga minyak bisa terus terkendali, maka dunia akan terbebas dari jeratan inflasi tinggi. Pada saatnya, ini akan membuat bank sentral di berbagai negara bisa mengendurkan kebijakan moneter. Tidak perlu lagi menaikkan suku bunga acuan.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga tinggi.
(aji)




























