Logo Bloomberg Technoz

"Apakah sebuah kesepakatan bakal dibuat dengan Iran yang memungkinkan mereka bangkit dan membangun negara yang jauh lebih besar dari sebelumnya—mungkin salah satu yang terbesar di Timur Tengah atau bahkan dunia—atau haruskah saya memusnahkan Republik Islam itu dan melakukannya dengan cepat?" ujar Trump.

"Apakah saya harus menyeret mereka ke neraka tanpa ada peluang untuk selamat dan tanpa harapan kejayaan di masa depan?" tegasnya.

Ancaman tersebut menggemakan pernyataan Trump sebelumnya ketika dia memperingatkan bahwa dirinya mungkin akan menghapus Iran dari peta. Namun, menyampaikan pernyataan tersebut dari podium ikonik berbahan marmer hijau di ruang Sidang Umum PBB menciptakan kontras mencolok dengan prinsip-prinsip yang melandasi pembentukan organisasi dunia tersebut.

Trump berpendapat bahwa dirinya menggunakan kekuatan Amerika untuk menghadapi berbagai tantangan yang telah berlangsung lama, berbeda dengan para pemimpin lain yang hanya berbicara mengenai upaya untuk mengatasinya.

“Yang menang mendapatkan hasil rampasan,” kata presiden tersebut, merujuk pada upaya menggulingkan pemimpin Venezuela dan mengambil alih kendali atas cadangan minyak negara itu.

Trump juga mempromosikan rencana pembangunan lebih banyak pangkalan militer AS di Greenland, serta mengatakan Amerika sedang menempatkan negara yang telah lama menjadi lawannya, Kuba, “di bawah tekanan terbesar yang pernah mereka alami.” Diplomat Kuba meninggalkan ruang sidang ketika Trump menyebut negara mereka.

Pidato tersebut merupakan pidato kedua Trump di hadapan PBB sejak kembali ke Gedung Putih pada awal 2025 dan disampaikan dalam situasi yang sangat berbeda dibandingkan masa sebelumnya dalam kepresidenannya.

Jika tahun lalu Trump menyampaikan pidato dengan penuh kemenangan setelah memenangkan pemilihan kembali, pidato tahun ini disampaikan ketika posisi politiknya berada dalam situasi yang lebih rentan. Jajak pendapat menunjukkan tingkat persetujuannya berada pada atau mendekati rekor terendah, sementara sejumlah tanda peringatan terus muncul bagi Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu pada November yang berpotensi membuat mereka kehilangan kendali atas Kongres.

Perang dengan Iran tetap sangat tidak populer, salah satunya karena korban jiwa dan kenaikan harga bensin. Trump mengatakan dirinya menduga Iran sengaja menunda kesepakatan hingga pemilihan paruh waktu selesai.

Trump hanya memberikan sedikit dukungan secara retoris kepada Ukraina, yang masih berjuang menghalau invasi Rusia yang dimulai lebih dari empat tahun lalu, dan kembali berjanji akan mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik tersebut.

Pendekatannya mendapat penolakan dari sejumlah pemimpin dunia lainnya. Dalam pidatonya, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres tidak menyebut AS secara langsung, tetapi mengatakan pendekatan Trump bertentangan dengan masa depan yang menghindari “kecenderungan hegemonik”.

“Membangun masa depan seperti itu dimulai dengan pengakuan, terutama oleh negara-negara adidaya, bahwa kekuatan mereka tidaklah begitu super,” kata Guterres. “Kekuatan mereka memiliki batas.”

Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva menyampaikan kritik yang lebih eksplisit. Meski juga tidak menyebut AS, dia menyesalkan tatanan dunia ketika PBB telah kehilangan kredibilitas dan Dewan Keamanan PBB dilumpuhkan oleh hak veto yang dimiliki AS dan empat negara lainnya.

“Kelemahan yang melekat dalam Piagam PBB ini memberikan kemewahan kepada negara-negara besar untuk menjadi tidak peka,” kata Lula dalam pidatonya.

Trump, yang tiba di New York pada Senin, dijadwalkan bertemu dengan sejumlah pemimpin dunia pada Selasa, termasuk Delcy Rodriguez, sekutu Maduro yang mendapat dukungan AS untuk memimpin Venezuela setelah penggulingan atasannya tersebut.

Setelah itu, Trump berencana kembali ke Washington untuk menggelar pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping. Xi tidak menghadiri Sidang Umum PBB.

Trump hanya menyebut China—pesaing geopolitik utama AS—satu kali dalam pidatonya. Dia mengatakan AS kini memimpin “jauh di atas China, dan semua negara lainnya” dalam perlombaan AI.

Trump kemudian menolak seruan Guterres yang disampaikan dari podium yang sama beberapa saat sebelumnya untuk bekerja sama dan mencegah AI berkembang di luar kendali. Trump menyebut upaya tersebut sebagai “skema globalis”.

(bbn)

No more pages