Logo Bloomberg Technoz

“Seperti yang terjadi pada sebagian besar kesempatan belakangan ini ketika yen memasuki rapat BOJ dengan momentum yang kuat, BOJ telah menghentikan pergerakan tersebut,” tulis James Reilly, ekonom pasar senior di Capital Economics, dalam sebuah catatan.

“Cukup masuk akal untuk mengatakan bahwa perubahan signifikan dalam peruntungan yen terhadap dolar AS akan bergantung pada perkembangan dari sisi AS.”

Laporan mengenai rate check tersebut juga menyoroti risiko bahwa otoritas Jepang kembali masuk ke pasar untuk menahan pelemahan yen lebih lanjut. Langkah tersebut dapat memicu perubahan harga yang cepat dan merugikan trader.

Likuiditas yang lebih tipis akibat libur di Jepang hingga Rabu memberikan peluang untuk memperbesar dampak intervensi resmi. Jendela waktu serupa saat libur Golden Week pada akhir April hingga awal Mei membuat Jepang melakukan intervensi setelah yen melemah melewati level ¥160 per dolar.

Putaran intervensi yen terbaru, yang dimulai pada akhir Juli ketika AS turut masuk ke pasar bersama Jepang, memperkuat yen lebih dari 6%. Meskipun penguatan tersebut mencapai puncaknya di level ¥152,89 pada 8 September, sejumlah investor masih relatif optimistis terhadap yen hingga pekan lalu.

“Kami sempat bertanya-tanya apakah USD/JPY berada di ambang perubahan arah,” kata Joey Chew, kepala riset valuta asing Asia di HSBC Holdings Plc, dalam sebuah catatan.

“Kini kami menilai bahwa perkembangan terbaru — intervensi bersama dan kenaikan suku bunga kedua hanya tiga bulan kemudian — kemungkinan hanya akan menstabilkan USD/JPY, bukan memicu tren penurunan.”

Intervensi Jepang di pasar valuta asing beberapa tahun terakhir. (Bloomberg)

Gubernur BOJ Kazuo Ueda memberikan sinyal beragam mengenai arah kenaikan suku bunga berikutnya setelah BOJ menaikkan suku bunga pada Jumat. Ia menunjukkan sikap hawkish dengan mengatakan bahwa tahap penetapan kebijakan telah berubah. Namun, Ueda juga mengatakan sulit menentukan suku bunga terminal untuk siklus pengetatan saat ini dan tidak memberikan banyak petunjuk mengenai laju kenaikan suku bunga berikutnya.

Pasar swap saat ini hanya memperhitungkan peluang kurang dari 20% untuk kenaikan suku bunga pada rapat kebijakan berikutnya pada akhir Oktober. Sementara itu, peluang kenaikan suku bunga pada keputusan kebijakan Desember telah diperhitungkan hampir 90%.

Penguatan yen pada awal bulan ini sebelumnya didorong oleh ekspektasi bahwa BOJ akan mempercepat pengetatan kebijakan, berakhirnya carry trade yang didanai yen, serta spekulasi bahwa dana pensiun Jepang akan mengalihkan lebih banyak dana ke aset domestik.

Namun, kenaikan suku bunga Federal Reserve pekan ini dan pernyataan Ueda membuat sejumlah strategis memperingatkan bahwa nilai tukar dolar-yen dapat terus naik jika investor menyimpulkan bahwa bank sentral Jepang akan kesulitan mengejar laju pengetatan The Fed.

“Ke depan, kami menilai kondisi eksternal masih menjadi hambatan bagi JPY,” kata strategis Morgan Stanley MUFG Securities Koichi Sugisaki dan Hiromu Uezato dalam sebuah catatan.

Yen merosot hingga sekitar ¥164 per dolar pada Juli, level terlemahnya dalam empat dekade. Pelemahan tersebut membuka jalan bagi operasi pembelian yen terkoordinasi antara AS dan Jepang, yang merupakan intervensi pertama sejak 1998 dan meningkatkan risiko bagi trader yang bertaruh melawan mata uang tersebut.

Jepang menghabiskan rekor ¥15,4 triliun (US$98 miliar) untuk intervensi dalam sebulan hingga 26 Agustus, berdasarkan data Kementerian Keuangan. Menteri Keuangan AS Scott Bessent sejak itu terus memberikan sinyal dukungan terhadap yen yang lebih kuat.

Secara terpisah, hedge fund berbalik bullish terhadap yen untuk pertama kalinya sejak Juli 2025 dalam sepekan hingga 15 September. Perubahan sentimen tersebut cukup signifikan setelah intervensi dilakukan. Namun, pergeseran menuju posisi bullish tersebut berisiko membuat sebagian trader salah posisi setelah BOJ mengecewakan sejumlah pelaku pasar yang berharap bank sentral menunjukkan sikap lebih hawkish.

(bbn)

No more pages