Logo Bloomberg Technoz

Serangan udara menghantam fasilitas bahan bakar jet di Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, menurut Wall Street Journal, yang mengutip tiga pejabat yang mengetahui insiden tersebut. Surat kabar itu mengatakan asap hitam terlihat di bandara.

Kelompok pemberontak Houthi mengeluarkan pernyataan yang mengklaim telah menggunakan rudal dan drone untuk menyerang dua lokasi di Arab Saudi, termasuk satu di Riyadh. Juru bicara militer kelompok tersebut, Yahya Saree, menyebut serangan itu sebagai aksi balasan atas serangan udara Arab Saudi di Yaman.

Sistem pertahanan udara Arab Saudi menghancurkan rudal balistik yang diluncurkan Houthi ke arah Riyadh, ibu kota Arab Saudi, dan secara terpisah menggagalkan serangan Houthi terhadap sejumlah sasaran sipil di beberapa kota, termasuk pelabuhan minyak Yanbu di Laut Merah, Saudi Press Agency melaporkan dengan mengutip seorang juru bicara militer.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan bentrokan tersebut berisiko meningkat, memperingatkan warga AS mengenai potensi pembatalan penerbangan dan penutupan wilayah udara serta menyarankan mereka mempertimbangkan kembali perjalanan ke kawasan tersebut.

“Houthi yang didukung Iran telah terlibat dalam permusuhan terhadap Arab Saudi, termasuk terhadap bandara sipil,” kata departemen tersebut pada Sabtu dalam peringatan keamanan. “Konflik militer ini berpotensi meningkat dengan cepat.”

Pemerintahan Presiden Donald Trump, yang menghadapi lonjakan harga bensin dan solar pada tahun pemilu sela, berulang kali menyoroti volume lalu lintas kapal tanker melalui selat tersebut dalam beberapa pekan terakhir.

Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan pada 13 September bahwa pasar perlu terus mengandalkan arus pengiriman yang dia perkirakan mencapai 10 juta barel minyak mentah dan produk minyak per hari melalui Selat Hormuz. Dia menyebut pasar minyak “lebih ketat dari yang kami inginkan saat ini, tetapi tidak terlalu ketat.”

Cooper mengatakan AS—bersama negara-negara sekutu di Teluk Persia, perusahaan asuransi, dan perusahaan pelayaran—berupaya lebih lanjut meningkatkan arus pengiriman melalui selat tersebut.

“Upaya ini membuahkan hasil,” katanya. “Volume minyak mentah, kargo, dan gas alam cair dalam dua pekan terakhir lebih tinggi dibandingkan titik mana pun dalam enam bulan terakhir.”

Sementara itu, Iran “tidak mengekspor satu barel pun” ketika AS memberlakukan blokade di selat tersebut.

Arab Saudi, yang secara historis merupakan eksportir minyak terbesar di dunia, kembali menjadi sasaran serangan pada September ketika Houthi, kelompok yang didukung Iran dan berbasis di Yaman, menargetkan kota-kota di wilayah barat serta infrastruktur energi. Pemerintah Arab Saudi mengatakan serangan drone yang menghentikan operasi jalur pipa East-West berasal dari Irak, yang memiliki sejumlah milisi pro-Teheran.

Houthi Yaman melakukan serangan terhadap Arab Saudi hampir setiap hari dalam sebulan terakhir. Salah satu serangan pada Kamis menyebabkan satu orang tewas dan beberapa lainnya terluka di Taif.

Houthi juga mengatakan telah memblokade kapal-kapal Saudi di Laut Merah dan menyerang sejumlah kapal di jalur tersebut, yang menjadi rute utama ekspor minyak Arab Saudi sejak perang Iran mengganggu lalu lintas melalui Selat Hormuz.

(bbn)

No more pages