Logo Bloomberg Technoz

“Komite menghapus rujukan terhadap inflasi yang didorong oleh guncangan pasokan. Hal ini menunjukkan bahwa para pembuat kebijakan semakin berfokus pada tekanan inflasi yang lebih luas dan bertahan lama, alih-alih menganggap kenaikan harga baru-baru ini sebagai sesuatu yang sebagian besar bersifat sementara atau dipicu faktor eksternal,” kata Daniel Siluk, manajer portofolio di Janus Henderson Investors.

Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) dengan suara bulat memutuskan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75% hingga 4%. Proyeksi suku bunga para pejabat The Fed, yang dikenal sebagai dot plot, menunjukkan satu kenaikan lagi pada tahun ini.

Warsh kembali menegaskan pesan untuk memerangi inflasi yang disampaikannya dalam pertemuan Jackson Hole pada bulan lalu. Dalam pernyataan kepada wartawan pada Rabu, dia mengatakan terlalu banyak kategori barang dan jasa yang mencatat kenaikan harga tahunan di atas 3% dalam periode enam dan 12 bulan.

Presiden AS Donald Trump mengatakan melalui media sosial setelah keputusan tersebut bahwa suku bunga AS seharusnya berada di level 1% atau lebih rendah. Namun, dia tidak secara langsung mengkritik Warsh.

“Kami ‘menanggung’ hampir setiap negara di dunia, dan hal itu tidak bisa terus berlanjut,” kata Trump. “SEGERA TURUNKAN SUKU BUNGA UNTUK AMERIKA SERIKAT!”

Kenaikan suku bunga pada Rabu tersebut dapat menandai dimulainya siklus pengetatan kebijakan yang lebih luas, dengan para pembuat kebijakan dan pelaku pasar memperkirakan setidaknya satu kenaikan lagi tahun ini. Perhatian kini beralih pada waktu dan laju kenaikan suku bunga berikutnya.

“Sejarah menunjukkan dengan jelas bahwa ketika The Fed mulai menaikkan suku bunga, mereka akan melakukannya beberapa kali,” kata Chris Zaccarelli, kepala investasi di Northlight Asset Management. “Namun, polanya tidak terlalu jelas terkait apakah mereka akan menaikkan suku bunga dalam pertemuan yang berurutan atau mempertahankan suku bunga tetap” dalam beberapa pertemuan.

Di sisi lain, harga minyak turun setelah muncul tanda-tanda bahwa sejumlah gangguan pasokan di Timur Tengah mulai mereda. Para pedagang juga menyesuaikan posisi mereka setelah reli harga yang sangat kuat.

Harga minyak mentah Brent ditutup di sekitar US$106 per barel ketika Arab Saudi berupaya memulihkan sekitar setengah kapasitas pipa East-West dalam beberapa hari. Pipa tersebut ditutup setelah serangan drone pada pekan lalu.

Harga minyak telah melonjak hampir 80% sepanjang tahun ini setelah pecahnya perang AS-Iran dan berlarutnya konflik Rusia-Ukraina. Kenaikan tersebut, yang disertai lonjakan biaya bahan bakar yang lebih besar, meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global.

Penurunan harga minyak saat ini sebaiknya dilihat “sebagai jeda, bukan pembalikan arah yang jelas untuk saat ini,” kata Charu Chanana, kepala strategi investasi di Saxo Markets, Singapura. Dia memperingatkan bahwa risikonya masih sangat besar. Menurutnya, eskalasi lebih lanjut atau gangguan pasokan yang berkepanjangan dapat dengan cepat kembali mendorong kenaikan harga minyak.

(bbn)

No more pages