Logo Bloomberg Technoz

“Kondisi kering di Sulawesi Tengah merupakan kendala yang tidak biasa dan bersifat sementara terhadap pasokan air, dan kami memperkirakan ketersediaan air akan kembali normal seiring dimulainya musim hujan,” tegas Werner.

Werner mengungkapkan saat ini curah hujan sulit diprediksi, tetapi berdasarkan proyeksi yang ada bakal kembali terjadi pada Desember 2026.

Bagaimanapun, Werner menegaskan smelter pirometalurgi berbasis rotary kiln electric furnace (RKEF) perseroan beroperasi secara normal.

Adapun, Nickel Industries memegang saham pada sejumlah perusahaan smelter RKEF di Indonesia, antara lain; Hengjaya Nickel, Ranger Nickel, dan Oracle Nickel.

IUI Smelter INC 

Lebih lanjut, Werner mengungkapkan perseroan bakal segera mendapatkan izin usaha industri (IUI) pada Oktober 2026 sehingga perseroan memungkinkan melakukan penjualan komersial seluruh produksi proyek ENC, termasuk nikel dan kobalt dalam bentuk katoda dan sulfat.

“Perseroan memperkirakan IUI akan diterima pada Oktober 2026, yang akan memungkinkan penjualan komersial seluruh rangkaian produk ENC, termasuk nikel dan kobalt dalam bentuk katoda dan sulfat,” tegas Werner.

Revisi RKAB

Di sisi lain, dia mengungkapkan tambang nikel Hengjaya mencatatkan penjualan bijih tertinggi sepanjang operasional yakni 1,6 juta ton basah atau wet metric ton (wmt) pada Agustus 2026.

Werner menilai kondisi kekeringan yang terjadi juga memberikan dampak positif bagi operasional tambang perseroan di tambang Hengjaya. Penjualan bijih secara Januari—Agustus 2026 mencapai 9 juta wmt, dengan kuota penjualan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 sebesar 14,3 juta wmt. 

Werner menegaskan perseroan telah segera mengajukan revisi RKAB, seiring menguatnya produksi dan penjualan bijih. Dia memperkirakan perseroan bakal segera mendapatkan hasil persetujuan dalam waktu dekat.

“Mengingat kuatnya produksi dan penjualan bijih, Perseroan telah mengajukan permohonan untuk meningkatkan kuota RKAB 2026 dan memperkirakan menerima tanggapan dalam waktu dekat,” tegas Werner.

Sekadar informasi, Nickel Industries memegang 46% saham smelter HPAL proyek ENC, kemudian Decent Resources memegang 44% saham, dan Sphere holding sebesar 10%.

ENC diperkirakan akan memproduksi 72.000 metrik ton per tahun setara nikel terkandung dari tiga produk nikel kelas 1 utama, yaitu mixed hydroxide precipitate (MHP), nikel sulfat, dan katoda nikel.

Proyek yang berada di kawasan IMIP tersebut telah mendapatkan keringanan pajak penghasilan badan selama 15 tahun.

Proyek ENC turut dilengkapi jaminan komisioning hingga kapasitas terpasang dan jaminan jangka waktu pengiriman tidak lebih dari 2 tahun sejak dimulainya konstruksi.

Adapun, PT IMIP mengamini kawasan basis nikel di Sulawesi Tengah itu tengah terdampak fenomena El Niño pada tahun ini, sehingga berpotensi menurunkan produksi dari smelter di sentra industri tersebut sekitar 30%—40%.

Head of Media Relations PT IMIP Dedy Kurniawan tidak menampik fenomena El Niño mengakibatkan terjadinya kekeringan di Morowali, Sulawesi Tengah hingga memengaruhi operasional smelter nikel yang menggunakan air dalam proses produksinya.

Dia menyatakan sumber daya air menjadi salah satu sumber energi utama penyokong operasional smelter nikel HPAL, pabrik produksi kokas, serta pendukung pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

“Mengenai faktor El Niño, kondisi cuaca yang lebih kering dan panjang diketahui menyebabkan penurunan potensi curah hujan di Indonesia, termasuk di lingkup Kecamatan Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah sebagai lokasi operasional industri IMIP. Hal ini karena El Niño memengaruhi debit air sungai,” kata Dedy ketika dihubungi Bloomberg Technoz, Rabu (2/9/2026).

“Ditaksir dari keseluruhan operasional industri di IMIP, El Niño melambatkan laju produksi hingga mengakibatkan 30%—40% penurunan produksi,” tegas Dedy.

Kendati begitu, dia menegaskan dampak dari fenomena El Niño tidak membuat operasional smelter di kawasan IMIP sampai terhenti ataupun melakukan pengurangan tenaga kerja.

“Kendala dari ekses gangguan iklim masih dapat dikontrol tanpa berimbas lebih besar bagi kesejahteraan pekerja,” ungkap Dedy.

(azr/wdh)

No more pages