Untuk Apa FIFA?
FIFA pada dasarnya merupakan badan pengatur sepak bola dunia. Selain menyelenggarakan Piala Dunia, FIFA mendistribusikan pendapatan dari turnamen untuk mengembangkan sepak bola, termasuk melalui pembangunan fasilitas latihan, pembinaan pemain muda, dan bantuan bagi federasi yang lebih miskin.
FIFA memang sudah menghasilkan uang dalam jumlah besar. Dari Piala Dunia terbaru, organisasi tersebut meraup sekitar US$15 miliar, termasuk pendapatan sponsorship.
Perbedaannya, sebagian pendapatan tersebut kembali disalurkan untuk pengembangan sepak bola di berbagai negara. Berbeda dengan klub, asosiasi tim nasional juga tidak dapat membeli pemain secara langsung untuk memperkuat skuad mereka.
FIFA Tidak Menjual Piala Dunia
Infantino menegaskan rencana tersebut bukan berarti FIFA menjual Piala Dunia. “Piala Dunia FIFA tidak untuk dijual,” kata FIFA dalam pernyataannya.
Menurut FIFA, anak usaha baru tersebut akan tetap dimiliki dan dikendalikan FIFA. Tujuannya adalah menghadirkan keahlian komersial serta modal jangka panjang untuk mengoptimalkan hak dan aset yang sudah dimiliki.
FIFA Forward Enterprise diperkirakan memiliki valuasi US$20 miliar. Infantino menargetkan penghimpunan dana hingga US$4,2 miliar melalui penjualan sebagian saham kepada investor eksternal.
FIFA menyebut Formula One dan sejumlah liga sepak bola, termasuk La Liga Spanyol, sebagai contoh organisasi olahraga yang telah menempuh langkah serupa. FIFA juga memperkirakan pendanaan untuk asosiasi anggotanya dapat meningkat 150%.
Mengapa Memicu Kritik?
Kritik tidak hanya menyasar rencana bisnis tersebut, tetapi juga kepemimpinan Infantino.
FIFA didirikan pada 1904 dengan mandat utama mengatur sepak bola dunia. Di bawah Infantino, sejumlah pengamat menilai batas antara sepak bola, bisnis, dan politik semakin kabur.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah keputusan FIFA memberikan FIFA Peace Prize kepada Presiden AS Donald Trump serta kehadiran Infantino dalam Board of Peace yang diprakarsai Trump.
Keterlibatan Joshua Kushner, pemodal ventura yang memiliki hubungan keluarga dengan Trump, dalam rencana pendanaan FIFA juga menjadi perhatian para pengkritik.
Latar belakang FIFA turut menjadi sumber kekhawatiran. Sejumlah mantan pejabat FIFA pada era pendahulu Infantino, Sepp Blatter, sebelumnya telah dinyatakan bersalah dalam kasus korupsi.
Kini, perkembangan rencana FIFA Forward Enterprise dalam beberapa pekan mendatang berpotensi menentukan bagaimana badan sepak bola tersebut mengelola bisnis, hak komersial, dan pendanaan sepak bola dunia ke depan.
Let me say this very directly.
— Andy Burnham (@andyburnham) July 28, 2026
Football does not belong to investors. It belongs to the people who fill the stands and who stand on the touchline week in, week out, rain or shine.
The World Cup is not a product. It is the greatest competition in world sport, and it was never…
Penolakan terhadap rencana FIFA paling keras datang dari Eropa. Penguatan FIFA Club World Cup dinilai berpotensi mengganggu Liga Champions yang bernilai tinggi dan selama ini dikelola UEFA, organisasi yang menaungi asosiasi sepak bola Eropa.
Sejumlah klub, termasuk Borussia Dortmund dari Bundesliga Jerman, memperingatkan beban tambahan bagi pemain jika FIFA memperluas turnamen demi meningkatkan pendapatan. Ketua Dortmund sekaligus Wakil Presiden Federasi Sepak Bola Jerman, Hans-Joachim Watzke, menyebut rencana tersebut sebagai “serangan langsung terhadap olahraga.”
FIFA juga membantah laporan yang menyebut Infantino akan mendapat keuntungan pribadi melalui jaminan posisi dan kompensasi setelah masa jabatannya berakhir.
Bisakah Rencana Infantino Dihentikan?
Infantino memberikan batas waktu hingga September kepada anggota FIFA untuk mendukung rencana tersebut. Menurut laporan Bloomberg, anggota yang tidak mendukung berpotensi menghadapi pengurangan pendanaan.
Asosiasi sepak bola Eropa kini menentang rencana tersebut. Dalam pertemuan krisis virtual pada 30 Juli, 55 anggota UEFA sepakat memboikot turnamen FIFA jika Infantino tidak membatalkan rencananya.
Rencana tersebut membutuhkan dukungan mayoritas anggota FIFA. Namun, negara-negara Eropa secara jumlah memang kalah banyak dibanding anggota FIFA dari Asia, Afrika, dan Amerika Latin, yang berpotensi mendukung proposal tersebut.
Meski demikian, absennya tim-tim besar Eropa dari Piala Dunia akan menjadi persoalan serius. Spanyol, yang menjadi juara dunia 2026, dan negara-negara Eropa lainnya merupakan bagian penting dari daya tarik serta pendapatan turnamen. Jika mereka tidak berpartisipasi, pendapatan Piala Dunia berikutnya berpotensi terdampak, yang pada akhirnya dapat memengaruhi pendanaan asosiasi sepak bola di berbagai negara.
Seberapa Kuat Posisi Infantino?
Hasil pemungutan suara atas proposal tersebut dapat memengaruhi upaya Infantino untuk memperpanjang masa jabatannya sebagai Presiden FIFA pada Maret 2027.
Menurut laporan The Guardian, lebih dari 200 anggota FIFA telah menyatakan dukungan terhadap pencalonan kembali Infantino. Namun, sejumlah pejabat sepak bola Eropa dilaporkan tengah mencari kandidat untuk menantangnya.
Salah satu nama yang disebut adalah Nasser Al-Khelaifi, Ketua Qatar Sports Investments yang merupakan pemilik mayoritas Paris Saint-Germain.
Jika rencana komersialisasi FIFA memicu perlawanan lebih luas, persaingan tersebut berpotensi menjadi salah satu isu utama menjelang pemilihan Presiden FIFA 2027.
(bbn)































