Sepanjang Semester I-2026, ANTM berhasil mencatat pertumbuhan positif pendapatan bersih mencapai Rp62,71 triliun, menguat 6% dibanding dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya (year–on–year/yoy), dari Rp59,01 triliun pada Semester I-2025.
Kenaikan tersebut seiringan dengan pertumbuhan kinerja top line yang sangat kuat dari segmen bijih nikel, feronikel, dan bauksit hingga emas.
Terobosan ANTM berhasil menghasilkan torehan laba bersih mencapai sebesar Rp6,91 triliun, bertambah signifikan 34% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp5,14 triliun.
Capaian itu mendorong nilai laba bersih per saham dasar sebesar Rp265,85 per saham, meningkat 36% dari tahun lalu.
Terlebih lagi, kinerja bisnis nikel ANTM mencatatkan peningkatan operasional paling kuat. Volume penjualan FeNi meningkat 71% quarter–on–quarter/qoq menjadi 4,8kt Ni, sementara ASP bijih nikel melesat 21% qoq menjadi US$80/wmt, volume penjualan berhasil mencapai 3,4 juta wmt.
Alhasil, EBITDA nikel meningkat 41% qoq menjadi Rp3,4 triliun, melampaui EBITDA logam mulia dan pemurnian emas. Bisnis bauksit dan alumina juga membaik, dengan EBITDA berbalik positif menjadi Rp134 miliar dari sebelumnya mencatatkan kerugian pada tahun sebelumnya.
Operasi feronikel menjadi salah satu sorotan utama, menyitir riset laporan Kiwoom Securities Co. Ltd., Adrian Djie. Volume penjualan pada Semester I-2026 mencapai 7.605 TNi, meningkat 32% year–on–year/yoy, dan seluruhnya terserap oleh pasar ekspor. Kondisi tersebut mendorong lonjakan pendapatan segmen sebesar 56% yoy menjadi Rp1,8 triliun.
Selain itu, penjualan bauksit juga meningkat 21% menjadi 1,26 juta wmt, yang menghasilkan peningkatan pendapatan sebesar 60% yoy menyentuh Rp867 miliar.
“Momentum positif juga berlanjut pada bisnis alumina, dengan produksi dan penjualan masing-masing meningkat 12% yoy dan 10% yoy menjadi 100.257 ton dan 100.437 ton,” terang Adrian dalam paparannya, mengutip Senin (14/9/2026).
Kedepannya, lini bisnis nikel ANTM berpotensi menjadi pendorong utama laba perseroan. Nikel mencatatkan peningkatan operasional paling kuat, komposisi laba semakin bergeser ke bisnis nikel seiring peningkatan produksi dan harga.
Analisis Sucor Sekuritas Andreas Yordan Tarigan tegas mempertahankan proyeksi 2026F–27F, dengan pendapatan masing-masing diproyeksikan mencapai Rp128,1 triliun dan Rp135,4 triliun, didukung oleh kuota bijih nikel yang lebih tinggi dan harga FeNi yang tetap kuat.
Laba bersih diproyeksikan mencapai Rp10,1 triliun pada 2026F, meningkat 39% yoy, dan Rp10,7 triliun pada 2027F, melesat 7% secara tahunan.
“Dengan laba Semester I-2026 yang telah mencapai 64% dari estimasi setahun penuh kami, ANTM hanya membutuhkan laba bersih Rp3,6 triliun pada Semester II-2026 untuk memenuhi proyeksi kami,” tulis Andreas dalam riset terbarunya.
Kondisi ini membuka risiko kenaikan (upside risk) dengan potensi harga nikel tetap kuat dan peningkatan produksi (production ramp) berjalan lancar.
Prospek positif tahun 2026 sangat terlihat bagi ANTM. Pendapatan dan laba diproyeksikan lanjut bertumbuh pesat mengingat komposisi laba yang terus membaik, kontribusi nikel yang lebih kuat, serta dukungan harga komoditas yang masih berlanjut.
“Kami melihat potensi kenaikan lebih lanjut apabila harga nikel tetap kuat dan peningkatan produksi dapat menghasilkan leverage operasional yang lebih tinggi,” optimis Andreas.
Senada dengan itu, Maybank Investment Banking Group Hasan Barakwan menyebutkan prospek ANTM pada Semester II-2026 bakal didukung oleh pemulihan margin emas, produksi bijih nikel yang lebih kuat, serta alokasi RKAB yang lebih tinggi.
“Alumina Mempawah memberikan tambahan kontribusi laba dari entitas asosiasi, sementara persetujuan HPAL dan progres pembangunan RKEF akan menjadi faktor penting yang menentukan pertumbuhan bisnis hilir,” papar Hasan dalam laporannya.
Ditambah lagi ANTM juga tengah mengembangkan fasilitas manufaktur logam mulia yang sepenuhnya dimiliki perseroan di Gresik, dengan estimasi investasi sebesar US$70 juta.
(fad)































