Logo Bloomberg Technoz

Sentimen negatif bagi harga emas adalah rilis data inflasi produsen Amerika Serikat (AS). Kemarin, US Bureau of Labor Statistics melaporkan inflasi produsen di Negeri Paman Sam tercatat 0,4% secara bulanan (month-to-month/mtm) untuk periode Agustus. Ini menjadi yang tertinggi dalam tiga bulan terakhir.

Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi produsen berada di 5,4%. Lebih tinggi dibandingkan Juli yang sebesar 4,8% dan sedikit di atas ekspektasi pasar yang memperkirakan di 5,3%.

Sedangkan inflasi inti (core) di tingkat produsen untuk periode Agustus masing-masing di 0,2% mtm dan 4,6% yoy. Pada Juli, inflasi inti di tingkat produsen adalah 0,3% mtm dan 4,3% yoy.

“Data inflasi produsen yang tinggi meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve (bank sentral AS) akan menaikkan suku bunga. Saat The Fed mengerek suku bunga, bank sentral di negara lain juga akan merespons inflasi yang membandel dengan pengetatan kebijakan moneter,” kata Jayati Bharadwaj, Head of FX Strategy di TD Securities, seperti dikutip dari Bloomberg News.

Usai laporan data inflasi, persepsi bahwa The Fed bakal menaikkan suku bunga acuan kian tebal. Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) ke 3,75-4% pekan depan mencapai 71,3%.

Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga tinggi.

Apalagi bank sentral lain juga terbukti sudah menaikkan suku bunga. Kemarin, bank sentral Uni Eropa (ECB) mengerek suku bunga simpanan sebesar 25 bps menjadi 2,5%. Langkah yang sesuai dengan ekspektasi pasar.

(aji)

No more pages