Sementara itu, dia menerangkan, kinerja segmen otomotif dan jasa keuangan tetap tangguh sepanjang 2026.
“Martabe sudah mulai beroperasi di Mei 2026 harusnya kontribusi di semester II lebih baik, dan ada peningkatan kuota produksi dari pada batu bara, Astra akan tetap resilien bertumbuh dengan nilai jangka panjang berkelanjutan untuk shareholders,” kata dia.
Sebelumnya, ASII membagikan dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rrp15,7 triliun. Nilai dividen tunai itu mengambil porsi sekitar 47,8% dari torehan laba perseroan sepanjang tahun lalu mencapai Rp32,76 triliun.
Besaran dividen itu sudah menghitung dividen interim sebesar Rp98 per saham atau sekitar Rp3,96 triliun yang telah dibayarkan pada 31 Oktober 2025.
Paruh Pertama
ASII mencetak laba Rp12,5 triliun sepanjang semester I-2026. Torehan laba itu ditopang oleh pendapatan bersih konsolidasian grup sebesar Rp157,9 triliun.
Kendati seluruh bisnis mencatatkan kinerja baik, kontribusi dari segmen solusi pertambangan dan alat berat relatif terkoreksi pada periode kali ini.
Astra telah mengumumkan program pembelian kembali saham baru hingga Rp8 triliun untuk 12 bulan ke depan, yang telah memperoleh persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada 17 Juli 2026.
Selain itu, anak usaha Astra PT United Tractors Tbk (UNTR) juga mengumumkan program pembelian kembali saham baru hingga Rp2 triliun untuk tiga bulan ke depan.
Adapun, UNTR mencatat penurunan laba bersih mencapai 88,2% ke level Rp956,28 miliar dari Rp8,13 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Penurunan laba terjadi seiring melemahnya pendapatan yang pada periode ini turun 15% menjadi Rp58,29 triliun dari Rp68,53 triliun pada semester I-2025.
UNTR menjelaskan bahwa penurunan pendapatan terutama dipicu oleh lebih rendahnya penjualan emas di PT Agincourt Resources serta melemahnya kinerja segmen alat berat dan pertambangan batu bara termal maupun metalurgi sebagai dampak alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara nasional 2026 yang lebih rendah.
Sementara itu, segmen ASII yang lain masih mencatat pertumbuhan laba bersih selama paruh pertama 2026, dengan segmen otomotif +9% YoY, jasa keuangan +6% YoY, dan segmen ‘others’ +81% YoY.
“Dengan asumsi tidak adanya lagi beban one-off yang signifikan pada semester II-2026, serta potensi naik RKAB dan kelanjutan pemulihan produksi emas Martabe, kami menilai kinerja UNTR dapat pulih signifikan,” dikutip dari komentar tim riset Stockbit.
Di sisi lain, tim riset Stockbit berpendapat, ASII masih berpeluang mengejar proyeksi laba bersih tahun 2026 di kisaran Rp29 triliun berdasarkan konsensus analis.
(naw)






























