Di sisi lain, perusahaan mengakui masih menghadapi tekanan terhadap margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) akibat persaingan suku bunga kredit dan biaya dana. Manajemen memproyeksikan NIM sepanjang 2026 berada di kisaran 3,3%-3,5%.
"Untuk tahun 2026 ini ada pressure dari sisi kompetisi lending rate dan juga cost of fund," ujarnya.
Untuk menjaga margin, BBNI akan terus mendorong CASA, menyalurkan kredit secara selektif, serta menerapkan pricing yang disiplin. Perseroan menargetkan pertumbuhan kredit 2026 berada di kisaran 8%-10% secara tahunan. Hingga Juni 2026, pertumbuhan kredit BNI tercatat 0,7% secara year to date.
Pada semester I-2026, BNI mencatat laba bersih Rp10,8 triliun, tumbuh 7% secara tahunan. Sementara itu, pre-provision operating profit (PPOP) tumbuh 14,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
(dhf)





























