Sejak konflik di Timur Tengah pecah akhir Februari, Beijing berhasil mengurangi impor minyak bulanan secara signifikan, turut membantu menahan lonjakan harga global. Kemampuan untuk membatasi pembelian dari luar negeri tersebut sebagian didasarkan pada akumulasi cadangan minyak mentah dalam jumlah besar sebelumnya.
"Dalam 20 tahun terakhir, China sebenarnya menyumbang 50% hingga 70% terhadap pertumbuhan tambahan permintaan dunia," kata Wang.
"Saat ini, kita harus menerima kenyataan bahwa ekonomi yang begitu besar—khususnya China—hampir tidak lagi mencatatkan pertumbuhan [konsumsi minyak]," tambahnya, merujuk pada tidak adanya konsumsi minyak tambahan.
Menurut lembaga tersebut, permintaan bensin diperkirakan turun 8,7% menjadi 149 juta ton tahun ini, sementara konsumsi diesel diperkirakan terkontraksi 11,4% menjadi 164 juta ton.
Wang mengatakan bahwa sebagian dari penurunan ini mencerminkan perilaku konsumen yang mengurangi perjalanan atau beralih ke transportasi umum akibat tingginya harga minyak.
Namun, faktor tersebut hanya menyumbang sekitar 30% dari hilangnya permintaan—yang bisa saja pulih jika biaya turun—sementara porsi permintaan yang tergantikan oleh kendaraan listrik kemungkinan besar bersifat permanen, tambahnya.
Meluasnya penggunaan truk berat bertenaga listrik juga mulai menjadi ancaman bagi permintaan solar. Pangsa pasar model listrik dalam penjualan truk berat meningkat dari sekitar 20% pada awal tahun menjadi lebih dari 40% pada Juli dan Agustus, serta berpotensi mencapai 50% sepanjang tahun ini, ujar Wang.
Menurunnya permintaan bahan bakar transportasi dengan laju yang semakin cepat ini memberikan tekanan pada sektor pengilangan minyak China. Volume pengolahan minyak mentah diperkirakan akan turun sekitar 5,4% menjadi sekitar 700 juta ton pada tahun ini, kata Wang.
(bbn)































