Logo Bloomberg Technoz

Beda Pengeluaran, Beda Keyakinan

Jika dibedah berdasarkan kelompok pengeluaran, maka keyakinan konsumen Indonesia tidak seragam. Pada kelompok pengeluaran paling rendah, yakni Rp1-2 juta, IKK memang masih berada di zona optimistis dengan skor 108,2.

Namun IKE kelompok ini hanya 95, atau masih berada di bawah ambang optimistis 100. Sementara IEK mencapai 121,4. Artinya, kelompok pengeluaran Rp1-2 juta belum merasa kondisi ekonomi saat ini sepenuhnya membaik

Sedangkan, pada IKK kelompok Rp2,1-3 juta tercatat 111,3, menunjukkan tingkat optimisme yang lebih tinggi dibanding kelompok terbawah, meski peningkatannya relatif terbatas. Sementara itu, kelompok Rp3,1-4 juta mencatat IKK 117,5, sekaligus menjadi kelompok dengan peningkatan keyakinan paling menonjol.

Sedangkan, kelompok dengan pengeluaran di atas Rp4 juta tetap menjadi lapisan konsumen dengan tingkat keyakinan paling tinggi. IKK kelompok Rp4,1-5 juta berada pada 118,9, sedangkan kelompok dengan pengeluaran di atas Rp5 juta mencapai 123,9, tertinggi di antara seluruh kelompok pengeluaran.

Hal ini menggambarkan bahwa kapasitas ekonomi berkorelasi kuat dengan tingkat keyakinan konsumen. Semakin besar ruang finansial untuk berbelanja, semakin tinggi pula keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi: konsumen paling mapan menjadi kelompok yang paling yakin dengan kondisi ekonomi. 

Lapangan Kerja

Sementara itu, ekspektasi ketersediaan lapangan kerja pada seluruh kelompok pengeluaran masih optimis, dengan capaian indeks di atas 100. 

Kelompok pengeluaran

IEKLK terbaru

Perubahan tahunan

Rp1–2 juta

124,9

+7,7

Rp2,1–3 juta

119,7

+2,8

Rp3,1–4 juta

128,8

+6,6

Rp4,1–5 juta

124,6

-4,4

>Rp5 juta

127,3

+2,6

Kelompok pengeluaran Rp3,1-Rp4 juta mencatat IEKLK tertinggi sebesar 128,8, disusul kelompok >Rp5 juta sebesar 127,3. Sementara itu, kelompok Rp2,1-Rp3 juta mencatat indeks terendah, yakni 119,7. 

Namun, di kelompok Rp4,1-Rp5 juta indeks ini tercatat turun 4,4 poin menjadi 124,6. Kelompok ini juga tercatat mengalami penurunan keyakinan pada Indeks Pembelian Barang Tahan Lama/Durable Goods (IPDG) sebesar 3,8 poin ke 102,6 dari 106,4. 

Agaknya, kelompok pengeluaran ini meskipun sudah memiliki tingkat konsumsi cukup tinggi, belum memiliki kapasitas finansial sebesar kelompok dengan pengeluaran di atas Rp5 juta, yang umumnya sudah memiliki buffer finansial yang lebih besar. 

Hal ini mengindikasikan posisi kelompok tersebut lebih sensitif terhadap prospek pekerjaan, perkembangan pendapatan, biaya hidup, dan ketidakpastian ekonomi. 

Anomali pada kelompok ini juga menunjukkan bahwa pemulihan keyakinan konsumen sepertinya belum berlangsung secara seragam, bahkan bagi kelompok kelas menengah. 

Meski penurunan 4,4 poin dalam ekspektasi pekerjaan pada kelompok pengeluaran Rp4,1-Rp5 juta belum menunjukkan adanya tekanan serius di pasar kerja, tapi angka ini bisa jadi lampu kuning, bahwa sebagian kelas menengah belum mendapatkan keyakinan yang sama kuatnya terhadap prospek pekerjaan seperti setahun sebelumnya. 

Pemulihan Belum Merembes ke Bawah

Data IKK juga menunjukkan fakta bahwa kelompok pengeluara Rp1-2 juta menjadi kelompok dengan kondisi paling pesimistis terhatap ketersediaan lapangan kerja saat ini (IKLK) maupun dalam keinginan membeli barang tahan lama (IPDG). 

Kelompok dengan daya beli rendah belum sepenuhnya merasakan pemulihan ekonomi seperti yang tercermin pada kelompok pengeluaran lebih besar. 

Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) berada di 92,5, masih berada cukup jauh di bawah ambang optimistis 100. Artinya, kelompok ini secara umum masih pesimistis terhadap ketersediaan lapangan kerja saat ini. Kondisinya menjadi lebih mengkhawatirkan dengan melihat data IPDG, yang hanya mencapai 89,9.

Artinya, bukan hanya persepsi terhadap pasar kerja yang lemah, tetapi keinginan atau kemampuan untuk membeli barang tahan lama juga masih berada dalam zona pesimistis. 

Begitu juga dengan kelompok pengeluaran Rp2,1-Rp3 juta yang mencatat IKLK 98,5, sedangkan IPDG berada di 98,5. Posisi ini memang lebih baik daripada kelompok Rp1-Rp2 juta, tapi tetap menunjukkan bahwa kedua kelompok pengeluaran terendah belum optimis terhadap kondisi pasar tenaga kerja maupun pembelian barang tahan lama. 

Dengan begitu, data IKK Agustus menunjukkan bahwa mesin konsumsi memang sudah mulai kembali menyala, meski belum semua kelompok rumah tangga ikut menekan pedal gas dengan kekuatan yang sama. 

(dsp/aji)

No more pages