Masalah Logistik
Mars Ega mengklaim rendahnya penyaluran B50 di Maluku-Papua tidak berkaitan dengan terjadinya masalah logistik. Dia menyatakan perseroan bakal segera meningkatkan penyaluran B50 di wilayah-wilayah tersebut.
“Namun demikian, secara umum kami tidak mengalami kendala distribus. Memang saat ini dengan adanya disparitas harga yang cukup tinggi antara Biosolar B50 subsidi dengan produk-produk nonsubsidi, tentu saat ini ada peningkatan demand dari sektor biosolar subsidi,” ungkapnya.
Dalam kesempatan itu, Mars Ega mengungkapkan terminal bahan bakar minyak (TBBM) Sintang di Kalimantan Barat (Kalbar) menjadi satu-satunya TBBM yang belum menyalurkan biodiesel B50.
Alasannya, terdapat kendala logistik yang terjadi gegara musim kemarau sehingga sungai yang dilalui kapal pengangkut B50 belum dapat menjangkau TBBM Sintang.
Dia menjelaskan dari 121 TBBM hanya TBBM Sintang saja yang belum menyalurkan biodiesel B50. Dia menegaskan kendala distribusi terjadi gegara sungai yang dilalui mengalami penyusutan volume air.
“Adapun satu terminal yang saat ini belum menyalurkan B50 adalah terminal Sintang. Ini karena ada faktor cuaca di mana kami masih ada kesulitan untuk masuk alur sungai di terminal Sintang karena faktor kendala musim kemarau sehingga beberapa sungai ini mengalami penyusutan,” kata Mars Ega.
Dia menjelaskan terdapat dua sistem distribusi B50, yakni ada terminal yang menerima fatty acid methyl ester (FAME) dan terdapat TBBM yang langsung dalam campuran Biosolar B50.
Mars Ega mengklaim hingga saat ini perseroan mendapatkan respons positif dari masyarakat ihwal kualitas B50.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan persiapan penerapan program biodiesel 50% atau B50 untuk disalurkan secara menyeluruh di Indonesia kini telah memasuki bulan terakhir.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan implementasi mandatori B50 secara penuh akan berlaku pada Oktober.
“Masih ada satu bulan lagi persiapan untuk full B50. Kalau dari Pertamina sudah hampir 90% dan kalau dari keseluruhan kan ada BU swasta juga, itu kira-kira 80%-an,” kata Eniya, awal September.
Eniya menjelaskan target capaian keseluruhan sebesar 80% tersebut telah berhasil direalisasikan pada akhir Agustus.
Menurutnya, Kementerian ESDM terus memperketat pengawasan melalui kegiatan pemantauan dan evaluasi secara berkala agar implementasi B50 berjalan dengan cermat dan minim kendala.
“Jadi kita lihat nanti sebulan lagi terus kita tetap melakukan pengawasan, ini monitoring dan evaluasinya kita perbanyak gitu karena kita ingin persiapkan B50 secara cermat ya. Untuk Agustus, keseluruhan B50 sudah 80%-an ya,” tambahnya.
Ihwal jangkauan distribusi ke kawasan timur Indonesia, Eniya menegaskan Kementerian ESDM telah mencermati kelancaran di setiap titik serah.
Dia mengonfirmasi penyaluran oleh Pertamina telah menjangkau wilayah timur Indonesia, mengingat jangkauan distribusinya yang sudah mendekati kapasitas maksimal serta keterbatasan jumlah titik serah di daerah tertentu seperti Papua.
“Titiknya ya kita cermati sampai, tetapi Pertamina kan penyaluran sudah 90%, jadi kemungkinannya sih sudah sampai [di Indonesia bagian timur]. Kalau Papua kan hanya ada satu titik serah,” jelasnya.
(wdh)





























