Fasilitas minyak di Jazan—tempat kilang berkapasitas 400.000 barel per hari telah ditutup sejak serangan sebelumnya pada Juli—kembali diserang pada Senin.
Serangan ini kemungkinan akan memperdalam kekhawatiran pasar minyak mengenai gangguan pasokan lebih lanjut, mengingat pengiriman melalui Selat Hormuz terus terhambat akibat perselisihan antara AS dan Iran terkait kendali atas jalur perairan vital tersebut.
Memanasnya ketegangan di Timur Tengah mendorong harga minyak di London kembali mendekati angka US$100 per barel.
Iran telah memperingatkan bahwa mereka akan mengambil sikap yang lebih agresif terhadap AS dan baru-baru ini melakukan reorganisasi jajaran militernya seiring peralihan ke yang mereka sebut sebagai "doktrin ofensif."
"Sikap operasional terhadap kapal perang dan pangkalan AS telah disesuaikan secara mendasar," kata pejabat senior keamanan Iran, Mohsen Rezaee, dalam unggahan di X. "Perang ekonomi akan dibalas dengan penerapan zona larangan pelayaran di seluruh Teluk Persia hingga batas blokade."
Bulan lalu, kelompok Houthi Yaman mengklaim bertanggung jawab atas dua serangan dalam kurun waktu satu minggu terhadap kompleks kilang Jazan di barat daya Arab Saudi.
Menurut otoritas Saudi, salah satu serangan menghantam kilang dan memicu kebakaran, sementara serangan lainnya merusak tangki bahan bakar di fasilitas tersebut, sebagaimana disampaikan oleh sumber yang mengetahui informasi tersebut pada saat itu.
Kelompok Yaman tersebut juga mengaku bertanggung jawab atas serangan pada Juli, dan telah menargetkan kapal-kapal Arab Saudi, termasuk kapal tanker raksasa di Laut Merah bulan lalu.
Arab Saudi menyatakan bahwa serangan Houthi baru-baru ini yang menyasar empat kota Arab Saudi di dekat perbatasan dengan Yaman telah melukai 73 orang.
Kelompok Houthi merupakan bagian dari yang disebut Iran sebagai "Poros Perlawanan", kelompok anti-AS dan anti-Israel yang mencakup Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Gaza.
(bbn)

































