Pengumuman IRGC itu disampaikan setelah militer AS mengatakan telah menyerang tiga kapal tanker minyak mentah Iran dan menghancurkan salah satunya. Serangan tersebut dilakukan sebagai respons terhadap serangan IRGC yang menargetkan dua kapal perang Angkatan Laut AS dengan rudal balistik.
Serangkaian serangan balasan terbaru dan pernyataan yang saling bertentangan mengenai status Selat Hormuz menunjukkan kecilnya peluang untuk mengakhiri perang yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran lebih dari enam bulan lalu.
Menteri Energi AS Chris Wright mengisyaratkan bahwa kehadiran Angkatan Laut AS tidak akan berkurang. Kehadiran tersebut mencakup blokade laut untuk menghambat ekspor minyak Iran serta membantu memastikan kapal-kapal komersial lainnya dapat melintas dengan aman di selat tersebut.
“Seharusnya ini bukan hanya menjadi tanggung jawab Amerika Serikat, tetapi sampai Iran mengubah sikapnya atau mengubah pemerintahannya, kami harus menghadapinya,” kata Wright pada Minggu dalam program State of the Uniondi CNN.
Wright tidak menyebut negara mana saja yang mungkin bergabung dalam operasi tersebut. Untuk saat ini, katanya, Angkatan Laut AS memegang peranan penting.
“Ya, Angkatan Laut AS yang memastikan kelancaran arus distribusi ini tetap berjalan,” kata Wright dalam program Fox News Sunday.
Lalu lintas yang terpantau di Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman, masih sepi. Data Kpler menunjukkan hanya satu kapal pengangkut komoditas yang melintasi selat tersebut pada Sabtu.
Ketua parlemen Iran sekaligus kepala perunding dalam pembicaraan gencatan senjata sebelumnya, Mohammad Bagher Ghalibaf, pada Minggu memperingatkan bahwa era “respons proporsional” telah berakhir.
AS “harus memahami sebelum terlambat bahwa aturan permainan telah berubah,” katanya, menurut unggahan di Telegram. “Mulai sekarang, setiap agresi terhadap kepentingan dan keamanan Iran akan mendapat respons yang lebih cepat, lebih berat, dan lebih menyakitkan.”
Presiden AS Donald Trump mengatakan ingin “mencekik” perekonomian Iran, meski ia kesulitan mengakhiri konfrontasi tersebut. Pada Jumat, Trump menyebut konflik yang telah menewaskan 18 personel militer AS itu sebagai “hal kecil”, sementara Wakil Presiden JD Vance mengatakan dia “tidak akan menyebutnya sebagai perang”.
Sejumlah jajak pendapat menunjukkan warga Amerika memberikan penilaian buruk terhadap penanganan perang oleh Trump. Konflik tersebut memicu lonjakan harga energi dan meningkatkan risiko Partai Republik yang dipimpin Trump kehilangan kendali atas Kongres dalam pemilu paruh waktu November.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan pada Sabtu bahwa salah satu kapal tanker yang diserang, Kylo berukuran Suezmax, tenggelam di Teluk Oman. CENTCOM juga mengatakan kapal tanker Suezmax Stark I telah dilumpuhkan di Teluk Oman, begitu pula kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar, Downy, di Teluk Persia dekat Pulau Kharg, pusat ekspor minyak Iran.
CENTCOM mengatakan awak Kylo telah diperintahkan meninggalkan kapal sebelum serangan dilakukan. Data pelayaran menunjukkan Kylo tidak sedang membawa minyak mentah ketika diserang.
Dalam unggahan terakhirnya, Angkatan Laut IRGC kembali mengulangi peringatan keras kepada seluruh kapal agar tidak menggunakan rute pelayaran di Selat Hormuz yang tidak mendapatkan izin resmi dari pihak Iran.
(bbn)



























