Selain itu, BMKG mengoptimalkan pemantauan melalui berbagai instrumen, mulai dari satelit, tsunami gate, High Frequency Radar, sensor geomagnetik di sekitar Selat Sunda, hingga pemantauan petir vulkanik.
"Seluruh data tersebut dianalisis secara terpadu untuk mendukung pengambilan keputusan yang cepat dan akurat," jelasnya.
BMKG mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di wilayah pesisir Selat Sunda serta DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Lampung, dan Bengkulu, untuk tetap waspada namun tidak panik.
Masyarakat juga diminta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi dan mengikuti perkembangan informasi resmi dari BMKG, PVMBG atau Badan Geologi, BNPB, serta instansi yang berwenang.
Senada, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan tidak ada potensi tsunami akibat erupsi terbaru Gunung Anak Krakatau, seperti yang terjadi pada Desember 2018 lalu.
Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan, Lana mengatakan, tsunami Selat Sunda yang terjadi pada 2018 disebabkan oleh reruntuhan sebagian tubuh Gunung ke laut dalam jumlah yang cukup besar, bukan dari kolom erupsi.
"Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pasca erupsi 22 Desember 2018 ini masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami," ujarnya dalam konferensi pers daring, Minggu (6/9/2026).
Lana mengatakan, sebagian besar tubuh Gunung Anak Krakatau saat ini telah runtuh, dan mengalami pertumbuhan atau perubahan morfologi kembali akibat aktivitas erupsi berikutnya.
Berdasarkan pemetaan morfologi terbaru, bentuk dasar tubuh gunung dan kawah utamanya ini relatif tidak menunjukkan perubahan signifikan yang jelas dibandingkan pemetaan sebelumnya.
Dalam kesempatan lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga memastikan belum tanda-tanda terjadi kenaikan atau anomali permukaan laut hingga pukul 07.00 WIB.
"Potensi terjadinya tsunami belum dapat kami pantau atau belum terpantau sampai dengan saat ini melalui 20 tsunami buoy yang dimiliki BMKG di sekitar Selat Sunda," ujar Teuku Faisal, Kepala BMKG.
Selain lewat tsunami buoy, BMKG juga memantau kondisi laut menggunakan high frequency radar yang berada di Carita dan Tanjung Lesung. Hasilnya, juga menunjukkan probabilitas terjadinya tsunami masih rendah.
"Masyarakat kami minta untuk tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi dan selalu mengikuti pembaruan informasi dari BMKG, PVMBG atau Badan Geologi, BNPB, serta instansi yang berwenang," tuturnya.
Dengan Asistensi Sultan Ibnu Affan
(dec/ell)
























