Logo Bloomberg Technoz

Menurut Hernani, saat ini sudah ada sosialisasi dari Kecamatan. Puskesmas setempat juga menurunkan bidan-bidan dan puskesmas untuk mensosialisasikan supaya keluarganya  memakai masker dan kacamata.

“Debunya bikin perih tenggorokan dan hidung karena ada silika-nya, Ini kayak kaca halus,” katanya.

Meski demikian, Hernani mengatakan bahwa saat ini belum ada imbauan untuk mengungsi ataupun imbauan sekolah dari rumah.

Sementara itu, Pandu (38) warga Kecamatan Cisauk, Kabupaten Tangerang juga mengatakan bahwa saat ini debu tipis sudah sampai ke rumahnya yang berjarak cukup jauh dari Gunung Anak Krakatau.

“Tadi pagi cek mobil sudah ada debu tipis, di mulut dan tenggorokan tidak enak rasanya,” katanya.

Kondisi tersebut mendorong Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap abu vulkanik tersebut.

“Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi abu vulkanik akibat aktivitas Anak Gunung Krakatau,” tulis akun instragram resmi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten, Minggu (6/9/2026).

Dalam unggahannya, BPBD Banten meminta masyarakat untuk menggunakan masker dan melindungi mata saat terjadi abu vulkanik. Selain itu, masyarakat juga dianjurkan untuk sebisa mungkin tetap berada di dalam rumah.

Selain itu, masyarakat juga diminta untuk menutup pintu dan jendela untuk mengurangi masuknya abu, membersihkan abu yang menempel pada tubuh dan pakaian, dan menghindari berkendara jika jarak pandang terganggu.

“Abu vulkanik terdiri dari partikel sangat halus yang dapat mengganggu kesehatan, terutama saluran pernapasan, mata, dan kulit. Abu juga dapat mengganggu jarak pandang serta mencemari sumber air dan lingkungan,” tulis BPBD Banten.

(ell)

No more pages