Berton menyebut, dalam menghadapi aktivitas erupsi terdapat tiga hal utama yang ditekankan BNPB. Pertama, keselamatan masyarakat menjadi prioritas sehingga pemerintah daerah bersama unsur terkait perlu memastikan tidak ada masyarakat maupun wisatawan yang berada dalam radius bahaya.
“Pengawasan dan patroli di kawasan tersebut perlu terus diperkuat untuk mencegah masyarakat memasuki zona terlarang,” ujar Berton.
Kedua, perlu meningkatkan kesiapsiagaan. Pemerintah daerah bersama BPBD dan usur terkait diharapkan memastikan jalur evakuasi, titik kumpul, sarana komunikasi serta kebutuhan dasar masyarakat siap digunakan apabila terjadi perubahan aktivitas yang membutuhkan langkah evakuasi.
Ketiga, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dan mematuhi setiap arahan petugas. Dia juga mengimbau masyarakat untuk tidak menyebarluaskan informasi yang belum terverifikasi, termasuk mengenai potensi tsunami.
“BNPB bersama pemerintah daerah dan unsur terkait terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. PVMBG juga akan melakukan evaluasi secara berkala maupun sewaktu-waktu apabila terdapat perubahan signifikan pada aktivitas maupun morfologi gunung api,” ujar Berton.
Adapun, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat gunung Anak Krakatau mengalami gempa letusan atau erupsi, sehingga menetapkan status level III atau siaga.
Berdasarkan data Magma Indonesia, erupsi tersebut menerus berlangsung sejak 4 September 2026 pukul 23:07 WIB.
“Terdengar Dentuman dan Gemuruh dari Pos GAK Pasauran - CCTV pengamatan di lapangan OFF terkena lontaran,” tulis laporan PVMBG dalam situs Magma ESDM, Sabtu (5/9/2026).
PVMBG menghimbau kepada masyarakat untuk tidak mendekati gunung Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius 3 kilometer (km) dari kawah aktif.
PVMBG mencatat terdapat 1 kali gempa letusan atau erupsi dengan amplitudo 70 mm, dan lama gempa 21600 detik.
“Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Asap kawah tidak teramati. Cuaca berawan hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah barat laut,” tulis PVMBG ESDM.
Adapun tinggi erupsi belum teramati secara visual dan warna abu tidak teramati oleh PVMBG ESDM.
“Masyarakat/pengunjung/wisatawan/pendaki tidak mendekati G. Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius 3 km dari kawah aktif,” tegas PVMBG ESDM.
(azr)






























