Logo Bloomberg Technoz

"Hal terpenting, Bank Indonesia juga menyiapkan likuiditas dalam bentuk Repo. Kalau kita lihat, Repo termasuk efek swap atau dana asing masuk yang kemudian dirupiahkan, itu sudah mencapai sekitar Rp920 triliun hingga Rp930 triliun," kata Destry.

Hal itu berarti terdapat likuiditas yang kembali masuk ke sistem perbankan. Jadi, persoalan kondisi likuiditas merupakan tanggung jawab bersama.

"Termasuk kalau pemerintah dia masuk ke DPK (dana pihak ketiga), di BI dia masuk menjadi alat liquid," sebutnya.

Pada dasarnya, menurut Destry, persoalan utamanya penempatan likuiditas di perbankan itu hanya terkait sinergi dan komunikasi antara kedua lembaga, bank sentral dan bendahara negara. 

"Kembali lagi, ini kan masalah sinergi, karena likuiditas ini menjadi pekerjaan rumah bukan hanya BI, tapi juga pemerintah, dalam hal ini menteri keuangan. Kami menyambut baik. Kuncinya komunikasi yang baik," tutur Destry. 

Sebelumnya, Purbaya juga menyebut bakal berkoordinasi dengan bank sentral agar penarikan SAL tidak mengganggu base money atau uang primer.

"Nanti kalau kita terpaksa tarik pun, itu kan SAL ya. SAL itu tidak dipakai sebelum dapet prosedur DPR kan, sebagian taruh di BI, sebagian taruh di sistem perbankan sesuai dengan kebutuhan manajemen cashflow kita. Kebetulan berdampak positif ke perbankan," kata Purbaya di Kompleks Parlemen, Rabu (2/9/2026).

"Kalau memang kita mau pakai, nanti kita harus komunikasi dengan bank sentral, sehingga yang tadi base money tidak terganggu," jelasnya.

Di sisi lain, Purbaya mengungkapkan bahwa dirinya memilih menggunakan indikator base money atau M0 untuk menilai kondisi likuiditas sistem keuangan secara keseluruhan dibandingkan dengan rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK).

"Kan saya bilang AL/DPK itu semu. Kadang-kadang bagus terus. Terus perbankannya kurang duit aja nggak tahu kadang-kadang angka itu. Jadi saya nggak pakai itu," tegasnya.

Lebih lanjut, Bendahara Negara tersebut menuturkan pada Juli 2026, pertumbuhan base money tercatat mencapai 18,3%. Ia bahkan memperkirakan pertumbuhan base money pada akhir Agustus tidak akan banyak berubah dan masih berada di sekitar 18%.

Menurut Purbaya, pertumbuhan base mo]ney di kisaran tersebut cukup untuk menopang pertumbuhan kredit di atas 20% apabila kondisi likuiditas tersebut dapat dipertahankan.

Oleh karenanya, Purbaya menilai koordinasi yang semakin baik antara kebijakan fiskal pemerintah dan bank sentral membuka ruang lebih besar untuk menjaga kondisi likuiditas perbankan tetap memadai.

(lav)

No more pages