Logo Bloomberg Technoz

Dari sisi makroekonomi domestik, pasar akan mencermati sejumlah data, mulai dari inflasi Agustus yang diproyeksikan mencapai 3,13% secara tahunan, inflasi inti 2,80%, hingga Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur sebesar 50,5. Selain itu, neraca perdagangan Juli diperkirakan mencatat defisit US$600 juta.

“Inflasi yang masih dalam target BI dan PMI yang tetap ekspansif menjadi penopang, meski pelemahan neraca perdagangan berpotensi menambah tekanan terhadap Rupiah dan ruang kebijakan BI,” ujar Reza.

Sementara itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta melihat IHSG berpotensi mengalami koreksi wajar setelah terbentuk pola bearish doji star candle. Namun, sejumlah indikator teknikal masih menunjukkan kondisi yang relatif positif.

“Pergerakan IHSG berpotensi membentuk koreksi wajar setelah pola bearish doji star candle terbentuk," kata Nafan.

Nafan juga menyoroti meningkatnya risiko dari arah kebijakan moneter Amerika Serikat setelah pidato Ketua The Fed Kevin Warsh pada Simposium Ekonomi Jackson Hole. Menurutnya, pernyataan tersebut cenderung hawkish dan membuat kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada September lebih terbuka.

Berdasarkan CME FedWatch Tool per 29 Agustus 2026, probabilitas kenaikan Fed Funds Rate sebesar 25 basis poin pada September meningkat menjadi 59%, dari sebelumnya 35%.

Meski demikian, Nafan menilai pidato Warsh belum dapat diartikan sebagai sinyal pasti kenaikan suku bunga. Keputusan The Fed tetap akan bergantung pada data ekonomi yang dirilis menjelang pertemuan FOMC September, terutama inflasi dan pasar tenaga kerja.

“Belum tepat apabila pidato tersebut langsung diinterpretasikan sebagai sinyal bahwa The Fed pasti akan menaikkan suku bunga. Namun, risiko kenaikan 25 basis poin menjadi lebih terbuka apabila inflasi AS tetap persisten tinggi dan kondisi pasar tenaga kerja masih relatif solid,” jelasnya.

Dari sisi pasar domestik, Nafan menilai dampak awal dari meningkatnya ekspektasi suku bunga AS cenderung negatif terhadap IHSG. Kenaikan yield US Treasury dan penguatan dolar AS berpotensi menekan rupiah serta meningkatkan risk premium emerging markets, termasuk Indonesia.

Namun, tekanan tersebut belum dinilai mengubah tren IHSG secara struktural menjadi bearish. Pergerakan pasar masih akan sangat bergantung pada data ekonomi AS menjelang FOMC September. Jika inflasi mulai menurun dan pasar tenaga kerja melemah, ekspektasi kenaikan suku bunga dapat kembali mereda.

Untuk September, Nafan mempertahankan strategi cautious bullish, dengan peluang penguatan IHSG masih terbuka selama fundamental domestik tetap solid, rupiah relatif stabil, dan arus modal asing kembali masuk.

Secara teknikal, Mirae Asset menetapkan level support IHSG pada 6.453 dan 6.353, sementara resistance berada di 6.552 dan 6.695.

Di sisi lain, rebalancing MSCI yang berlaku mulai 1 September 2026 masih menjadi katalis utama pada perdagangan hari ini. Dalam penyesuaian tersebut, GOTO dan CPIN dikeluarkan dari kategori Global Standard Index, sementara sembilan emiten terdepak dari kategori Small Cap Index, yakni ARTO, BUKA, ESSA, FILM, HEAL, KPIG, RATU, SMGR, dan TCPI.

Nafan menilai dampak pengumuman tersebut telah sebagian besar diantisipasi pasar sejak Agustus karena MSCI tidak memberikan kejutan negatif tambahan serta telah membekukan penyesuaian Foreign Inclusion Factor (FIF) bagi saham Indonesia sejak awal Juli.

(dhf)

No more pages