Padahal, menurutnya, kemarau panjang justru menjadi kondisi yang memungkinkan PM2.5 terakumulasi karena minimnya hujan.
"Ini bukan teknologi yang bisa dipanggil sesuka hati. Pada musim kemarau dengan langit cerah berkepanjangan, kondisi yang justru paling berbahaya untuk akumulasi PM2.5, awan konvektif yang dibutuhkan untuk OMC semakin sulit atau langka," ujarnya.
Dicky menambahkan, manusia tetap memiliki keterbatasan dalam mengendalikan kondisi atmosfer.
"Manusia, meskipun memiliki teknologi secanggih apa pun, tetap bergantung pada izin Allah. Kalau Allah tidak mengizinkan, tidak akan ada awannya. Jadi, manusia bisa berusaha, tetapi Allah yang menentukan," katanya.
Kedua, intensitas hujan menentukan efektivitas pembersihan partikulat.
Dicky menjelaskan, sejumlah studi eksperimen penyemaian awan untuk mengurangi partikulat, termasuk penelitian di Korea, menunjukkan tingkat penurunan konsentrasi debu halus bergantung pada intensitas dan jumlah presipitasi.
Efek penurunan konsentrasi partikulat disebut menjadi signifikan pada intensitas hujan lebih dari 5 milimeter per jam. Dengan demikian, hujan dengan intensitas rendah atau gerimis dinilai belum tentu cukup kuat untuk memberikan efek pembersihan yang bermakna.
"Artinya, efeknya tidak akan signifikan apabila intensitas hujannya di bawah 5 milimeter per jam. Misalnya hujan gerimis ringan yang sering terjadi karena awannya terbatas, kemungkinan besar tidak cukup kuat untuk memberikan efek pembersihan yang bermakna secara statistik," jelasnya.
Ketiga, bukti ilmiah terkait efektivitas jangka panjang masih terbatas.
Menurut Dicky, literatur ilmiah internasional masih menunjukkan kehati-hatian terhadap klaim bahwa cloud seeding dapat menjadi metode efektif untuk mengendalikan polusi udara.
Dia mengatakan sejumlah penelitian belum menemukan bukti ilmiah yang memadai bahwa penyemaian awan dapat menurunkan polusi secara konsisten. Metode tersebut juga hanya dapat bekerja ketika awan dengan kandungan kelembapan yang memadai tersedia.
Selain itu, dampak penurunan polutan yang dihasilkan cenderung kecil dan berumur pendek.
"Efeknya juga kecil dan berumur pendek. Paling banter menghasilkan gerimis singkat yang membersihkan sebagian debu dan partikel hanya beberapa jam," ujarnya.
Dicky juga menyinggung pandangan American Meteorological Society yang menyatakan belum terdapat bukti konkret bahwa metode tersebut secara konsisten memberikan hasil yang dapat diandalkan.
Menurut dia, persoalan utama OMC adalah sifatnya yang hanya memberikan mitigasi sementara. Jika sumber emisi tidak dikendalikan, konsentrasi PM2.5 akan kembali meningkat.
"Bahkan kalau satu sorti penyemaian berhasil menurunkan PM2.5 secara temporal atau sementara, polutan akan terakumulasi lagi selama sumber emisi seperti kendaraan, industri, PLTU, dan pembakaran biomassa terus beroperasi tanpa perubahan," kata Dicky
Polusi Jakarta Dipengaruhi Wilayah Penyangga
Dicky juga menyoroti karakter polusi udara Jakarta yang tidak hanya berasal dari wilayah ibu kota. Berdasarkan pemodelan kualitas udara regional yang dia sampaikan, ketika emisi Jakarta diasumsikan nol, kawasan penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi masih berkontribusi sekitar 38,5% terhadap PM2.5 di Jakarta.
"Jakarta tidak berdiri sendiri. Ada kota-kota penyangga yang juga berkontribusi terhadap polutan PM2.5 ke Jakarta," ujarnya.
Karena itu, menurut Dicky, OMC yang hanya menyasar wilayah langit Jakarta tidak menyelesaikan persoalan emisi lintas wilayah yang terus memasok polutan baru setiap hari.
Dia menyimpulkan bahwa OMC dapat digunakan sebagai instrumen mitigasi darurat jangka pendek untuk membantu mengurangi puncak paparan polusi selama beberapa jam hingga satu hari. Namun, metode tersebut tidak dapat diposisikan sebagai solusi struktural.
"Efektivitasnya sangat kondisional: harus ada awan, intensitas hujan juga harus cukup, dan hasilnya tidak bisa diprediksi secara konsisten," tegasnya.
Dengan demikian, penurunan konsentrasi PM2.5 setelah OMC tidak serta-merta dapat seluruhnya dikaitkan dengan operasi tersebut tanpa adanya analisis yang mengendalikan faktor-faktor meteorologi lainnya.
(dec/spt)





























