Hal tersebut mendasari upaya agresif raksasa otomotif China ini untuk merambah Amerika Selatan dan Eropa, di mana peluncuran model-model baru dan penyegaran beberapa produk populer mendongkrak penjualan—sekaligus meningkatkan profitabilitas.
Sebagai tonggak sejarah bagi perusahaan, penjualan dari luar negeri naik 34% menjadi 181,3 miliar yuan pada paruh pertama tahun ini, menyumbang 53% dari total penjualan dan untuk pertama kalinya melampaui pendapatan yang dihasilkan di China Daratan.
Di pasar dalam negeri—pasar mobil terbesar di dunia—penurunan industri yang berkepanjangan masih terus berlanjut. Menurut Bloomberg Intelligence, sebagian besar produsen mobil, termasuk BYD, mencatat penurunan pendapatan pada Juli dibandingkan tahun sebelumnya akibat perang diskon harga mobil yang masih sengit.
Secara keseluruhan, total penjualan kendaraan penumpang di negara tersebut turun 21% bulan lalu, menurut Asosiasi Kendaraan Penumpang China (China Passenger Car Association).
Sementara itu, pemerintah memperketat pengawasan terhadap industri ini, berjanji akan mencermati siklus pengembangan produk yang sangat cepat dari para produsen mobil, guna memastikan tidak ada aspek keselamatan yang dikorbankan demi kecepatan peluncuran model baru.
BYD menjual 1,81 juta unit mobil pada enam bulan pertama tahun ini, sehingga masih jauh di bawah target tahunannya sebesar 5 juta hingga 5,5 juta unit.
Para investor kini memusatkan perhatian pada kinerja BYD di paruh kedua tahun ini.
Meski angka pengiriman Juli belum menempatkan perusahaan pada jalur yang tepat untuk mencapai target tahunannya, para analis memprediksi pemulihan laba BYD akan semakin cepat di sisa tahun ini seiring dengan upaya perusahaan mengatasi masalah produksi dan terus meningkatnya ekspor.
Estimasi yang dihimpun Bloomberg bahkan memproyeksikan laba dan pendapatan akan mencapai rekor tertinggi pada kuartal keempat.
Pasar luar negeri telah menjadi motor penggerak pertumbuhan bagi produsen mobil China sepanjang tahun ini, termasuk pada Juli. Menurut data PCA, total penjualan kendaraan penumpang dari China ke luar negeri melonjak 88% bulan lalu.
Namun, ekspansi internasional ini juga menyebabkan penumpukan stok. Stok BYD pada akhir Juni meningkat menjadi setara dengan penjualan kendaraan selama 109 hari, naik dari 79 hari pada periode yang sama tahun sebelumnya, akibat “siklus pengiriman yang panjang,” kata perusahaan tersebut.
BYD juga harus menghadapi lingkungan perdagangan yang semakin tidak bersahabat, yang berisiko memperlambat rencana ekspansi luar negerinya.
Uni Eropa sedang mempertimbangkan tarif baru terhadap kendaraan hibrida asal China, sebagaimana dilaporkan Handelsblatt pada Juni. Langkah ini berpotensi membatasi pasar yang menguntungkan, yang sebelumnya muncul setelah blok tersebut menerapkan tarif terhadap mobil listrik murni dari negara Asia tersebut.
Di sisi lain, pabrik utama BYD yang sedang dibangun di Hongaria kini menjadi sorotan akibat dugaan pelanggaran hak pekerja oleh subkontraktor. Selain itu, pergantian pemerintahan di Budapest memicu penyelidikan terhadap subsidi negara, keringanan pajak, dan pengecualian aturan lingkungan yang sebelumnya diberikan kepada BYD.
Perusahaan, yang menyatakan telah mematuhi undang-undang dan peraturan setempat, telah menunda dimulainya produksi di Hongaria hingga kuartal keempat, sekitar satu tahun lebih lambat dari target semula.
Sementara itu, BYD juga berupaya menembus pasar Jepang, pasar yang sangat sulit ditembus hingga membuat produsen mobil global seperti General Motors Co telah lama meninggalkan upaya mereka untuk masuk ke sana.
Baru-baru ini, BYD mulai memasarkan Racco, kendaraan listrik (EV) mungil yang dirancang khusus untuk jalanan sempit di Jepang, sekaligus memasuki segmen terbesar dalam industri otomotif negara tersebut.
(bbn)































