Meski demikian, Aida mengatakan financial account yang cukup tinggi pada kuartal II membantu menjaga kondisi eksternal Indonesia. Hal tersebut membuat defisit current account sebesar 3,3% tidak sampai memicu kepanikan investor.
Aida mengatakan kondisi tersebut turut mendukung pergerakan nilai tukar rupiah yang belakangan relatif stabil di kisaran Rp17.800-Rp17.900.
“Sekarang malah pelan-pelan nilai tukar tadi sudah mengalami gerakan yang cukup stabil, Rp17.800-Rp17.900, itu Bapak yang kami sebut dengan penjagaan,” kata Aida.
Di sisi lain, Aida menambahkan bahwa pergerakan harga barang juga tidak terlepas dari kondisi inflasi. Karena itu, inflasi terus diarahkan agar berada dalam target yang telah disepakati antara BI dan Kementerian Keuangan.
Strategi ke Depan
Aida juga menyebut tantangan stabilitas nilai tukar masih harus dihadapi di tengah kondisi ekonomi global yang menuju higher for longer. Karena itu, respons melalui BI Rate tetap diperlukan untuk menjaga daya tarik imbal hasil rupiah dan menarik capital inflows.
Namun, Aida menilai kenaikan BI Rate secara terus-menerus dapat menekan perekonomian domestik. Untuk itu, BI perlu mengurangi trade-off antara menjaga stabilitas rupiah dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Untuk memastikan bagaimana stabilitas nilai tukar, harus ada capital inflows masuk. Tadi capital inflows akan masuk kalau yield-nya bagus, daya tarik, imbal hasilnya, rupiah bagus. Tapi kalau kita naikkan terus BI Rate, tentunya yang akan suffer adalah perekonomian domestik,” kata Aida
Aida mengatakan BI telah menaikkan suku bunga sebesar 100 basis poin. Selain itu, berdasarkan pengalaman, stabilisasi nilai tukar juga dapat dilakukan melalui intervensi dan kenaikan SRBI.
Ke depan, BI akan mengombinasikan kebijakan tersebut dengan open market operation dan pengembangan pasar uang untuk menjaga stabilitas rupiah. Salah satunya dengan memberikan insentif berupa diskon terhadap instrumen yang dapat menarik capital inflows.
“Sehingga kami muncul dengan bagaimana mengawinkan antara keperluan menjaga stabilitas nilai tukar dengan open market operation dan juga untuk pengembangan pasar uang, dengan mengenalkan diskon untuk instrumen-instrumen capital inflows,” ujarnya.
Dia merinci, swap hedging diberikan diskon sebesar 12,5%, sedangkan DNDF diberikan diskon 15%. Sementara itu, transaksi local currency transaction diberikan diskon 10%.
BI juga tidak hanya menyasar portfolio inflows. Aida mengatakan pada Agustus, cakupan tersebut ditambah dengan foreign direct investment (FDI) serta underlying terkait pinjaman luar negeri bank.
“Dan bahkan sekarang kita tidak saja melihat portfolio inflows, bulan Agustus kemarin juga ditambah FDI, kemudian underlying terkait dengan pinjaman luar negeri bank,” tutur Aida.
(ell)






























