Logo Bloomberg Technoz

Hingga kuartal II-2026, TPIA membukukan pendapatan US$5,3 miliar, meningkat dari US$2,9 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Perseroan juga mencatat laba bersih US$283 juta, yang salah satunya ditopang oleh operasional kilang minyak.

Menurut Teguh, perbaikan kinerja tersebut menjadi perkembangan positif bagi TPIA setelah perseroan mencatat kerugian dalam beberapa tahun sebelumnya. Namun, sejumlah ekspansi lain, termasuk bisnis otomotif C&C, masih membutuhkan waktu untuk menunjukkan kontribusi terhadap kinerja keuangan.

Dari sisi valuasi, harga saham TPIA di sekitar Rp2.000 memang sudah jauh lebih rendah dibandingkan ketika saham perseroan berada di level Rp7.000. Meski demikian, valuasi tersebut belum dapat dikategorikan undervalued.

Dengan PER disetahunkan 17,1 kali dan PBV 2,4 kali pada harga Rp2.000/saham, meski valuasi TPIA saat ini sudah tidak lagi semahal ketika sahamnya masih di Rp7.000, tapi juga belum bisa dikatakan undervalued

“Jika kita ambil PER 12 kali sebagai valuasi wajar sahamnya, sama dengan PER BBCA dan TLKM saat ini sebagai sesama emiten big caps dan likuid, maka itu setara harga saham Rp1.400/saham. Dan jika kita gunakan margin of safety 35%, maka TPIA baru bisa dikatakan murah pada harga saham sekitar Rp900-Rp1.000,” kata Teguh dalam risetnya, dikutip Rabu (26/8/2026).

Dengan asumsi tersebut, harga saham TPIA saat ini masih berada di atas level yang dinilai menarik dari perspektif value investing. Artinya, potensi pertumbuhan dari berbagai ekspansi perseroan belum serta-merta membuat saham TPIA menjadi undervalued.

Sementara itu, Teguh menilai prospek TPIA masih bergantung pada keberhasilan diversifikasi bisnis yang tengah dijalankan. Jika berbagai ekspansi mampu menghasilkan tambahan pendapatan secara signifikan, kinerja perseroan berpeluang membaik. Sebaliknya, leverage yang tinggi dapat menjadi risiko apabila ekspansi tidak menghasilkan return sesuai harapan.

“Kalau dari sudut pandang analisa fundamental, TPIA ini tidak memiliki historis kinerja yang bagus, tapi memang di tahun 2026 ini situasinya sudah mulai membaik, dan berpeluang untuk lebih baik lagi ke depannya jika ekspansi-ekspansinya sukses cetak tambahan pendapatan bagi perusahaan,” ujar Teguh.

Pekerja melintas di depan logo Chandra Asri di Cilegon, Banten, Senin (18/11/2024). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Sementara itu, Analis Panin Sekuritas, Sarkia Adelia menilai transaksi tersebut mempercepat diversifikasi TPIA ke bisnis nonpetrokimia dan memperluas platform perseroan ke sektor mobilitas.

“Artinya perseroan tidak hanya masuk ke bisnis retail otomotif, namun membangun mobility solutions platform sebagai pilar keempat,” ujar Sarkia dalam risetnya.

C&C memiliki book value dan net tangible assets sebesar S$370 juta per semester I-2026, sementara nilai akuisisinya mencapai S$265 juta. Selisih tersebut membuat TPIA diperkirakan berpotensi mencatat one-off gain sekitar S$100 juta.

Tidak hanya dari transaksi akuisisi, Sarkia memperkirakan Mobility Platform yang terdiri dari bisnis Esso dan C&C dapat memberikan tambahan earnings US$150 juta-US$200 juta per tahun. Tambahan earnings juga berpotensi berasal dari refinery rejuvenation sebesar US$200 juta-US$250 juta, infrastructure US$50 juta, dan chlor-alkali chemicals sekitar US$50 juta.

Jika seluruh inisiatif tersebut mencapai steady state, total tambahan laba bersih diperkirakan mencapai US$450 juta-US$550 juta per tahun, atau sekitar 1,6-1,9 kali laba bersih TPIA pada semester I-2026 yang sebesar US$283 juta.

“Secara keseluruhan, kami memandang positif untuk TPIA, langkah ekspansi organik dan anorganik menjadi katalis pertumbuhan jangka menengah-panjang yang menawarkan pertumbuhan profitabilitas berkelanjutan,” imbuh dia.

Namun, lanjut Sarkia, di tengah ekspansi yang ambisius juga perlu memperhatikan kemampuan leverage perusahaan dalam jangka pendek, dimana pihak manajemen juga menegaskan akan lebih hati-hati dan disiplin berkaitan dengan capital allocation.

Sarkia merekomendasikan buy TPIA dengan target harga Rp3.000/saham.

Sementara dalam konsensus analis yang dihimpun Bloomberg cenderung bullish dengan saham TPIA.

Sebanyak tiga analis, termasuk Sarkia, merekomendasikan buy. Ada dua analis merekomendasikan hold, namun tidak ada satu pun analis yang merekomendasikan sell TPIA.

Adapun target harga secara konsensus ada di level Rp3.192/saham.

(dhf)

No more pages